Oleh Farida Indriastuti
Foto: dokumentasi Mongabay
Rhett A. Butler, ahli lingkungan dan pendiri Mongabay.com situs lingkungan hidup yang tersohor di Amerika Serikat, meluncurkan Mongabay.co.id di Jakarta, pada Sabtu, 19 Mei. Dalam siaran pers yang dikirim Butler sengaja ia memilih Indonesia-- karena negara tropis ini memiliki kekayaan spesies tanaman dan hewan lebih banyak dibanding negara lain di bumi.
“Saya percaya, sedikit orang yang ingin merusak lingkungan jika mereka tahu akan kehilangan mereka,“ seru Butler. Mongabay menyuguhkan informasi lingkungan hingga riset-riset terbaru. “Indonesia berada di titik kritis dalam sejarah perkembangannya. Meskipun begitu, masih ada kesempatan mengubah dari pendekatan bisnis biasa yang merusak hutan ke model rendah karbon-- yang memanfaatkan hal-hal yang membuat Indonesia unik (dalam keanekaragaman hayati dan budaya), guna meningkatkan taraf hidup seluruh rakyat, “tutur ahli lingkungan lulusan University of California, San Diego, Amerika Serikat ini.
Kerusakan lingkungan dalam dua dekade terakhir memang menyisakan perih. Atmosfer bumi tak seimbang, laju efek gas rumah kaca meningkat drastis. Rusaknya hutan, miliaran ton karbon yang dilepaskan ke atmosfer, flora dan fauna (keanekaragaman hayati) Indonesia terancam.
Dengan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Pengguna internet di Indonesia yang begitu luas menjadi peluang besar bagi penyelamatan lingkungan. Media online independen dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam menggerakkan perbaikan, serta memahami kerusakan lingkungan.
“Mongabay.com telah hadir selama 12 tahun sebagai salah satu sumber analisis, berita dan informasi hutan tropis terkemuka di internet. Situs ini kini menarik lebih dari dua juta pengunjung per bulan. Hingga menjadi situs fokus pada ekologi yang paling banyak dikunjungi di internet,“ ujar fotografer lingkungan ini.
Situs hijau yang didirikan penulis “Industrial Deforestation” ini—meraih berbagai penghargaan, dari majalah TIME sebagai salah satu dari 15 situs “terhijau” pada 2008. Sekaligus masuk nominasi untuk The Climate Change Communicator of the Year dari George Mason University pada 2012.
Kehadiran Mongabay [edisi Indonesia] tentu dinantikan banyak pihak. Mongabay juga akan membantu meningkatkan transparansi dengan menghadirkan alat pelacak deforestasi—bekerjasama dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA), yang memungkinkan pengguna untuk melihat kerusakan hutan di manapun di dunia dalam tiga bulan terakhir.
“Alat pelacak deforestasi ini akan menciptakan transparansi yang belum pernah terjadi seputar hutan di Indonesia,” kata Butler. Semoga Mongabay memberikan pencerahan bagi kelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Selamat datang Mongabay di negara tropis nan indah ini!











