home | · | aktual | · | desain | · | Djoko Pekik Menikmati Senja
 
> Djoko Pekik Menikmati Senja
Kamis, 19 April 2012

Oleh Yuli Yanti

Bangunan kokoh berdiri terpisah di pelataran nan asri di Desa Sambungan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Di lahan seluas tiga hektar, suasana asri dan nyaman oleh pepohonan hijau dan rindang daun-daun. Tak satu pun pohon-pohon itu di tebang semena-mena, kecuali  jika  pohon menua dan mengganggu  kesimbangan-- agar tak menjadi sampah. Si empunya, pelukis Djoko Pekik memang melarang menebang semua pohon dan hewan yang berkeliaran di area rumahnya. Di masa senja, Pekik kian arif melindungi keseimbangan ekosistem dan lingkungannya.

Memasuki pelataran rumahnya yang luas, seolah berada di kawasan hutan dengan kontur tanah perbukitan dan dipagari dua aliran sungai yang deras. Semakin berjalan menurun, kita akan menjumpai sungai Bedog di sisi utara-- menjadi pembatas lahan hijau di rumah Pekik. Sedangkan, di sisi barat mengarah selatan dibatasi sungai Konteng. Di pelataran nan luas ini lelaki kelahiran Purwodadi, 75 tahun silam, menghabiskan hari-harinya.

Bangunan terpisah-pisah di tengah lahan hijau merupakan rumah pribadi Djoko Pekik dan keluarganya. Tak ada kerumitan dari sisi arsitektur hingga interior, seperti ukiran kayu pada kusen dan pintu. Di desain sederhana menggunakan konsep “manut alam” (istilah bahasa Jawa “mengikuti alam”).  Semua  bangunan mengikuti kontur tanah dan pepohonan-- sehingga bangunannya terpisah-pisah dan tak memiliki sekat; pagar. 

“Mencari sela-sela tanah yang tidak ada pohonnya, baru saya bangun. Arsiteksturnya manut alam, karena menyelamatkan pohon. Jangan sampai menebang pohon. Dan tidak mengganggu lainnya,“ ujar Pekik bersemangat.

Ruang-ruang  terpisah  seperti gudang, ruang keluarga, kamar pembantu, hingga penyimpanan gamelan.  Ada dua gudang penyimpanan perabotan, sound system, hingga genset. Dua gudang penyimpanan gamelan  terletak  di sebelah kanan dan kiri  yang diberinya nama  Kyai Gleger dan Kyai Lampor. Lantas,  kamar pembantu dan  ruang studio yang sedang di bangun.

Pada bangunan utama berukuran 12 x 20 meter digunakan Pekik sebagai ruang istirahat keluarga, dindingnya diselaraskan dengan alam-- berwarna hijau yang teduh. Tak bersiku sebab letaknya mengikuti kontur tanah yang menurun. Bangunan utama tanpa menggunakan genteng pada atapnya-- hanya di cor kerangka beton dengan ketebalan 20 cm.

Terdapat dua lantai. Pada lantai atas digunakan sebagai ruang keluarga, sedangkan ruang bawah  tanah digunakan sebagai ruang pameran dan penyimpanan lukisan-lukisannya, diantaranya terdapat lukisan “Berburu Celeng”. Lukisan tersohor itu pernah dibeli seharga 1 miliar,  dan uang 1 miliar dikembalikan lagi oleh Pekik. Lukisan itu sangat fenomenal di masa-masa transisi demokrasi pada 1998. Tak ayal, bila sang pelukis mendapat julukan pelukis 1 milyar.

Ada pula lukisan  berdimensi  4 x 5 meter berjudul “Berburu Istana” yang dilukis Pekik pada 2009. Lukisan itu diletakkan di depan pintu kayu jati.  Di ruangan ini, terdapat sebuah tangga menuju ruang keluarga.  Berdiri  patung berbentuk manusia sedang memanah--  diletakkan pada balkon di bawah pintu ruangan. 

Menurut Pekik, patung putih itu mengisahkan kelam-- dibuat saat dirinya mendekam di penjara (sekarang Museum Vredeburg), yang ketika itu digunakan untuk memenjarakan  orang-orang yang ‘dianggap terlibat’ gerakan Partai Komunis Indonesia pada 1965-an. Pekik sebagai seniman Lekra mengalami suramnya sebagai tahanan politik zaman itu

Di tengah pelataran hijau itu, Pekik dan para seniman sering berinteraksi. Ia menggunakan pelatarannya untuk aktivitas berkesenian. Semisal, menggelar “Kasongan Festival Art” beberapa waktu lalu di sekitar sungai Bedog.  Berdiri pula,  panggung rendah membelakangi sungai dengan bangku-bangku dari karet  ban hitam yang terletak di pinggir sungai.

Sang pemilik rumah  membeli lahan pada 1994. Kala itu masih berupa hutan dan lapangan. Maka jangan heran-- jika memasuki pekarangan Pekik,  masih banyak pohon-pohon kelapa,  mahoni, melinjo hingga bambu yang rimbun. Cahaya matahari pun-- seakan tak punya sela untuk masuk ke area ini. “Saya tidak  bisa nanam pohon karena gak ada yang tumbuh, karena  tertutup padatnya pohon-pohon,“ kelakar Kakek 15 cucu ini. 

Di usia senja, bekas anggota Sanggar Bumi Tarung itu  gemar memetik buah yang ditanamnya yaitu keyakinan dan kerja keras. "Tidak pernah tergambar cita-cita saya, semua menggelinding begitu saja," ujar Pekik saat mengawasi para tukang membangun ruang studionya. Lalu ia pun mengakhiri perbincangan.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Mencari Bangunan Terbaik (2)

WAF menobatkan Cooled Conservatories at Gardens by the Bay karya Wilkinson Eyre Architects, asal London, Inggris sebagai building of the year. Cooled Conservatory bukan hanya menawarkan sebuah desain bangunan dengan struktur bentang lebar yang menarik atau menjual gimmick “green”. 


+ lanjut
Mencari Bangunan Terbaik (1)

WAF menobatkan Cooled Conservatories at Gardens by the Bay karya Wilkinson Eyre Architects, asal London, Inggris sebagai building of the year. Cooled Conservatory bukan hanya menawarkan sebuah desain bangunan dengan struktur bentang lebar yang menarik atau menjual gimmick “green”. 


+ lanjut
Jelajahi Arsitektur Sinematik

Arsitektur menjelma bak sebuah wadah yang memuat emosi negatif dan mimpi buruk. Ini bukanlah suasana rumah hantu, melainkan suasana arsitektur Panti Asuhan Cijayanti yang didesain oleh Andra Matin. 


+ lanjut