home | · | kolom | · | Sedikit Tentang Arsitektur Parametrik
 
> Sedikit Tentang Arsitektur Parametrik
Kamis, 03 Mei 2012

Oleh Prima Surya Abdullah

Anda mungkin pernah mendengar arsitektur parametrik. Mari kita telaah sedikit istilah yang mungkin akan menjadi era arsitektur terbaru setelah Modernisme. Dalam beberapa artikel, Patrick Schumacher, salah seorang partner di Zaha Hadid Architects, malah menganggap Postmodernisme dan Dekonstruksisme tidak cukup berhasil untuk dianggap sebagai suatu era arsitektur, hanya semata tren sesaat. Mungkin anda mulai menganggap Schumacher sejenis Roy Suryo dengan analisisnya mengenai blog, tapi mari kita pelajari argumentasi Schumacher.

Sepanjang sejarah, definisi era arsitektur selalu memiliki rentang waktu yang cukup lama. Setelah Renaisans, dapat kita temui beberapa era arsitektur seperti Barok, Neoklasik, dan Ekletisisme. Beberapa ide seperti Rococo, Art Deco, dan Art Noveau, tidak lebih hanya gaya yang timbul sebagai transisi menuju gaya baru, atau antitesis dari era dominan di rentang waktu tersebut.

Modernisme adalah jawaban kondisi global kala itu yang dipengaruhi pertimbangan teknologi, jumlah penduduk, dan keadaan ekonomi pascaperang dunia. Ketika Le Corbusier memperkenalkan konsep moduler, ide tentang merumahkan jumlah penduduk dunia yang meningkat drastis, perkembangan  teknologi beton, dan produksi massal memungkinkan konsep ini berkembang populer. Dan konteks ini masih serupa dialami oleh dunia di rentang waktu Postmodernisme dan Dekonstruksisme. Bahkan ketika developer lokal kita memperkenalkan gaya Mediterania atau Klasik, yang masih sering kita lihat di Televisi setiap sabtu pagi, gaya ini tidak sungguh-sungguh merupakan era yang baru. Karena kita masih dalam konteks yang sama, cara pandang permasalahan yang sama, dan solusi yang, secara garis besar, sama.

Parametrisisme terjadi ketika semua elemen yang relevan dalam arsitektur dapat diperhitungkan secara utuh, tidak sebatas potongan-potongan disiplin ilmu tertentu. Ketika saya memilih diksi ‘disiplin ilmu’, saya tidak mengacu pada konfigurasi disiplin ilmu dalam menyusun tenaga ahli pada pengajuan tender, seperti ahli teknik sipil dengan keahlian memperhitungkan struktur dan jalan, teknik mesin dengan keahlian menentukan penghawaan buatan dan pemipaan, teknik elektro dengan keahlian menetukan pencahayaan, dan berbagai disiplin ilmu lainnya pada konfigurasi tradisional.

Parametrisisme memungkinkan kita memanfaatkan kemampuan cabang ilmu yang belum kita bayangkan sebelumnya seperti biologi, fisika, dan bahkan matematika. Anda bisa berargumen, semua rekayasa teknologi, termasuk arsitektur, adalah turunan dari cabang ilmu pengetahuan alam yang saya sebutkan sebelumnya, ya anda benar, tetapi, saya tidak membicarakan turunan pemanfaatannya. Saya membicarakan ilmu pengetahuan alam murni. Dengan perkembangan teknologi, arsitektur tidak lagi ruangan sempit yang hanya mendiskusikan dikotomi bentuk dan fungsi. Seperti yang dilakukan di era Modernisme seratus tahun ini.

Izinkan saya memberi contoh, Juan Subercaseaux pada desertasinya di tahun 2006, mempelajari sifat lipatan dan efek panas sinar matahari pada permukaan sebuah kaktus dan efeknya pada rehidrasi tubuhnya. Dengan ide ini, Subercaseaux dimungkinkan untuk membuat sebuah pavilun yang dapat berubah permukaannya sesuai dengan keadaan cuaca  lingkungan, sehingga menimbulkan lipatan yang terjadi secara alami karena efek yang difusi antara material dengan sistem berpembuluh kapiler pada struktur bangunan yang kemudian mempertahankan kelembaban dan kehangatan ruangan. Pada keadaan panas, si permukaan akan kekurangan air, sehingga kulit bangunan terbuka, dan sebaliknya.

Atau pada desertasi Dafne Sunguroglu di tahun 2007 yang memperlajari bentuk oktagonal dan permukaan hiperbola. Hiperbola di sini bukanlah majas, melainkan permukaan geometri di potongan kerucut yang diproyeksikan pada diagram kartesius. Ya, bahasanya agak sulit dicerna, sesulit merancang bentuknya dengan metode konstruksi kontemporer. Dengan cetakan permukaan segi delapan yang sama, Sunguroglu dapat menciptakan permukaan hiperbola hanya dengan mengubah tegangan tarik struktur kabel yang menahannya. Ini menarik, karena parametrisisme memungkinkan struktur yang unik dengan bentuk sederhana yang berulang.

Kita dapat menemukan dengan parametrisisme, meskipun kita merancang bentuk yang tidak sederhana, kita dapat memperoleh suatu bangunan yang sistemnya sangat sederhana dan efisien. Salah satu mantera era modernisme yang cukup tenar oleh Adolf Loos adalah ‘Ornament is a Crime’ yang kurang lebih berarti Ornamen adalah kejahatan. Tentu saja benar pada konteks kala itu. Dalam keadaan Republik Weimar kalah Perang Dunia Pertama, mendesain ornamen dapat membuang waktu berharga. Dan dalam konteks produksi massal, ornamen kriya membutuhkan tenaga manusia, karena mesin tidak dapat menciptakan hasil unik dan berbeda di tiap produknya. Inefisiensi tentu adalah kejahatan di Jerman.

Kini kita dapat menciptakan ornamen dengan pola tak berhingga hanya dengan beberapa baris bahasa pemrograman dan teknologi cetak terkini, Industri tekstil kita tidak tertinggal dalam hal ini, kita telah menyumbangkan batik fractal pada dunia.

Parametrisisme telah diterapkan pada berbagai aspek pula, seperti desain produk, seni murni, dan kini arsitektur dan urban desain. Beberapa arsitek ternama yang membidani ini seperti Peter Eisenman, Zaha Hadid, dan duo Coop Himmelb(l)au, telah memrancang beberapa karya eksperimental menyambut era baru ini. Di masa depan yang tidak terlalu lama lagi, parametrisisme akan menjadi norma yang umum di seluruh dunia.

Prima Surya Abdullah adalah kandidat Master Arsitektur dari Universitas HS-Anhalt, Dessau, Jerman. Penulis bisa dihubungi di akun twitter @psabd

KOMENTAR
Nama : dyandra soraya
Komentar : boringgggg.....
Nama : hanung martosiswoyo
Komentar : gak usah sok jago, kalo emang belom jago.. pliss kamu bukan apa2. background kamu juga ga cukup kuat buat bikin tulisan ini.
Nama : leo putra adi i
Komentar : Atikel tentang 'Arsitektur' yang anda tulis sangat menarik dan bagus. Kita juga punya artikel mengenai 'Arsitektur', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya http://arsitektur.blog.gunadarma.ac.id/ terima kasih semoga bermanfaat
KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Haus Akan Pengaruh Bauhaus

Oleh Prima Surya Abdullah

Pengaruh Bauhaus bermunculan di segala tempat di seluruh dunia, sehingga gaya ini dinamakan Internasional Style. Indonesia pun tidak terlepas dari pengaruh Bauhaus, contohnya seperti Hotel Indonesia, Bank Indonesia, dan Masjid Istiqlal.


+ lanjut
'Petualangan Ide' di Art Stage Singapore 2013

Oleh Harry Purwanto

Akhir petualangan ide itupun berhenti pada sebuah perenungan. Bukankah tiap kita punya rasa, pengalaman, punya ide juga? 


+ lanjut
Mobile TV dalam Keseharian Seorang Joko

Oleh Bhayu Sugarda

Siapa pun berhak menyaksikan film box office di smartphone atau tablet mereka. Tapi tak alamiah jika menyaksikannya di perangkat bergerak. Karena kualitas audio visual film box office adalah untuk layar lebar, sedangkan dengan perangkat bergerak kemampuan orang untuk menikmati konten itu terbatasi oleh besar layar.


+ lanjut