home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Kepala-Kepala di Atas Kepala
 
> Kepala-Kepala di Atas Kepala
Minggu, 10 Juni 2012

Oleh Yuli Yanti

Seorang perupa mengintepretasi karya perupa yang dikaguminya. Ia mencoba merekonfigurasi karya-karya pujaannya dengan sentuhannya. Hasilnya, tidak mengecewakan, lebih berwarna dengan sentuhan merah, putih dan abu-abu yang mendominasi.

Itulah sebuah proyek yang dilakukan perupa asal Yogyakarta, Dodo Hartok atas karya Wedhar Riyadi, salah seorang perupa yang dikaguminya. Proyek yang bertemakan 'Kepala-Kepala di Kepala' itu dipamerkan di Sangkring Art Project, Yogyakarta, pada 8 -16 Juni 2012.

Ada tujuh gambar karya Wedhar Riyadi yang dipilih Dodo sebagai objek gambarnya. Gambar-gambar tersebut lebih banyak bercerita tentang kepala-kepala dalam berbagai bentuk. Antara lain, berbentuk kepala burung dengan tubuh manusia, kepala-kepala manusia dan kepala dengan wujud serupa gunungan.

Awalnya, tujuh karya Wedhar diberi latar belakang berupa awan-awan tebal bergaya realis. Menciptakan narasi keterasingan yang absurd pada tokoh-tokoh surealis dengan penambahan objek-objek yang dilukis semirip mungkin dengan aslinya.

“Kalau secara gagasan tidak ada yang diubah. Cuma eksekusinya dengan cara aku begini,” ujar Dodo. Kalau diperhatikan pada dua karya mereka tidak signifikan perubahan detailnya. Perubahan yang paling jelas ialah dari segi ukuran dan medium karyanya.

Dodo memperbesar karya-karya Wedhar dengan menggunakan cat air, di atas kanvas berukuran 180 x 250 cm  menggunakan cat acrilyc. Teknik ini memberi pengalaman melihat yang berbeda. “Seniman seringkali sangat kuat keakuannya, justru Wedhar membuka seluas-luasnya untuk memaknai ulang dengan caraku sendiri,” ujar Dodo.

Brigitta Isabella sebagai kurator menyebut proyek ini sebagai kolaborasi. Meskipun Dodo telah melemahkan dan meggerus karya Wedhar, hingga memberikan narasi yang berbeda dari sebelumnya. “Usaha Dodo untuk menaklukkan karakter Wedhar dalam sebidang kanvas adalah sebuah percobaan untuk mendefinisikan kediriannya melalui kesadaran-- bahwa ia tak bisa eksis tanpa yang lain," tulis Brigitta.

Dodo tak menafikan karyanya adalah sebuah  bentuk kolaborasi yang terwakili oleh gambar-gambar Wedhar yang dibuatnya. “Aku selalu mengumpulkan kepala-kepala Wedhar dan menafsirkan apa yang ada di kepala Wedhar,” ucap Dodo.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Bayang-Bayang Manusia di Kereta Api

Kereta api merupakan moda transportasi publik yang populer. Dengan beragam aspek keuntungan bila menggunakan transportasi ini; murah dan ramah lingkungan.


+ lanjut
Tanda Karya Sri Warso Wahono

Sri Warso Wahono, seniman kelahiran Solo, telah menggeluti seni lukis sejak 1962. Hingga kini Sri Warso menginjak tahun ke- 50 dalam sejarah berkarya, sebagai penanda ia berkarya.


+ lanjut
Perupa Menggelorakan Semangat Kebangsaan

Berawal dari sebuah kelompok mahasiswa se-angkatan dengan aktivitas kesenian, komunitas Greget’ 95’ eksis berkarya.


+ lanjut