Oleh Yuli Yanti
Seorang perupa mengintepretasi karya perupa yang dikaguminya. Ia mencoba merekonfigurasi karya-karya pujaannya dengan sentuhannya. Hasilnya, tidak mengecewakan, lebih berwarna dengan sentuhan merah, putih dan abu-abu yang mendominasi.
Itulah sebuah proyek yang dilakukan perupa asal Yogyakarta, Dodo Hartok atas karya Wedhar Riyadi, salah seorang perupa yang dikaguminya. Proyek yang bertemakan 'Kepala-Kepala di Kepala' itu dipamerkan di Sangkring Art Project, Yogyakarta, pada 8 -16 Juni 2012.
Ada tujuh gambar karya Wedhar Riyadi yang dipilih Dodo sebagai objek gambarnya. Gambar-gambar tersebut lebih banyak bercerita tentang kepala-kepala dalam berbagai bentuk. Antara lain, berbentuk kepala burung dengan tubuh manusia, kepala-kepala manusia dan kepala dengan wujud serupa gunungan.
Awalnya, tujuh karya Wedhar diberi latar belakang berupa awan-awan tebal bergaya realis. Menciptakan narasi keterasingan yang absurd pada tokoh-tokoh surealis dengan penambahan objek-objek yang dilukis semirip mungkin dengan aslinya.
“Kalau secara gagasan tidak ada yang diubah. Cuma eksekusinya dengan cara aku begini,” ujar Dodo. Kalau diperhatikan pada dua karya mereka tidak signifikan perubahan detailnya. Perubahan yang paling jelas ialah dari segi ukuran dan medium karyanya.
Dodo memperbesar karya-karya Wedhar dengan menggunakan cat air, di atas kanvas berukuran 180 x 250 cm menggunakan cat acrilyc. Teknik ini memberi pengalaman melihat yang berbeda. “Seniman seringkali sangat kuat keakuannya, justru Wedhar membuka seluas-luasnya untuk memaknai ulang dengan caraku sendiri,” ujar Dodo.
Brigitta Isabella sebagai kurator menyebut proyek ini sebagai kolaborasi. Meskipun Dodo telah melemahkan dan meggerus karya Wedhar, hingga memberikan narasi yang berbeda dari sebelumnya. “Usaha Dodo untuk menaklukkan karakter Wedhar dalam sebidang kanvas adalah sebuah percobaan untuk mendefinisikan kediriannya melalui kesadaran-- bahwa ia tak bisa eksis tanpa yang lain," tulis Brigitta.
Dodo tak menafikan karyanya adalah sebuah bentuk kolaborasi yang terwakili oleh gambar-gambar Wedhar yang dibuatnya. “Aku selalu mengumpulkan kepala-kepala Wedhar dan menafsirkan apa yang ada di kepala Wedhar,” ucap Dodo.









