Oleh Degina Juvita
Srihadi Soedarsono, seniman gaek yang mengalami berbagai zaman dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Riwayat hidupnya panjang, dilalui dengan belajar seni rupa di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia di Bandung-- di mana saat itu Bandung termarjinalkan dalam kancah seni rupa Indonesia era 1940 hingga 1990. Srihadi begitu dekat dengan seni rupa-- tatkala ia studi ke Ohio State University, Amerika Serikat, pada 1960. Gelar Master of Art pun diraihnya.
Usai menjejak pendidikan seni rupa, Srihadi terus berkarya dan aktif di berbagai pameran seni, baik dalam dan luar negeri. Masa-masa berkarya Srihadi dilaluinya dengan proses pembelajaran yang tak singkat. Ia tak segan bereksperimen dan mencipta karya seni dengan beragam media. Lihat saja, karya-karya Srihadi yang dipamerkan di Art: 1 Museum, sejak 30 Mei lalu.
130-an karya koleksi sang pelukis, dipajang di ruas dinding galeri. Bagai menyaksikan tarikan garis hingga gradasi warna. Itulah karya-karya Srihadi yang disimpan bertahun-tahun, sekaligus memori awal karirnya. Di lantai dasar, lukisan candi Borobudur-- ditampilkan dalam lima kanvas berjajar hingga menyatu. Di dominasi biru kehitaman. Lanskap area candi Borobudur yang menawan. Lukisan berjudul “Long Journey”, yang dibuat pada 1993.
Berpindah ruang, gambar penari Bali yang sintal mewarnai kanvas “Oleg Tambulilingan”. Lukisan tarian tradisional Bali yang menggambarkan gerak-gerik kumbang betina yang sedang bermain-main dan bermesraan dengan seekor jantan. Tema lainnya “Horison” pemandangan kaki langit dengan gumpalan wan—namun terlihat daratan dan garis pantai.
Gunung menjulang tinggi bak membelah langit biru. Srihadi membagi batasan gunung dengan jalan menggunakan garis putih mengikuti tarikan kaki gunung. Ada dua bangunan kecil di sana—menyerupai Pura. Karya lukis Srihadi itu diberinya judul “Mt. Agung, Bali - The Secret Path” (2006).
Perkembangan [kronologis] karya-karya artistik Srihadi juga dipamerkan. Beragam periode, antara 1950 hingga 1990-an. Media yang digunakan beragam; pastel, charcoal, cat minyak, kertas, kanvas dan lainnya. Sang pelukis terkadang menyisipkan warna-warna yang kelam seperti pada karya "Manusia lapar 1” dan “Manusia lapar 2" (1967).
Karyanya yang kontroversi berjudul “Air Mancar” dilukisnya pada 1973. Lukisan ini sempat membangkitkan kemarahan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, saat tampil di pameran seni rupa di Paviliun DKI Jakarta - Taman Mini Indonesia Indah, pada 1975. Ali Sadikin tak mampu menahan emosi-- lantas mencoret-coret lukisan itu. Belakangan Gubernur meminta maaf pada Srihadi.
Begitu banyak jejak artistik sang maestro dapat dinikmati dalam pameran tunggal sekaligus peluncuran buku “Srihadi dan Seni Rupa Indonesia” yang ditulis oleh kurator Jim Supangkat. Pameran dibuka pada 30 Mei, dan akan berlangsung hingga 30 Agustus mendatang.









