home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Berbincang Industri Film Indonesia
 
> Berbincang Industri Film Indonesia
Kamis, 14 Juni 2012

Oleh Degina Juvita

Naskah menjadi kebutuhan penting dalam pembuatan film. Alur cerita, pembentukan karakter, hingga penentuan lokasi, merupakan elemen penting dalam naskah. Nah, naskah yang kuat dan berbobot dapat menentukan kualitas suatu film. Implikasinya, berujung pada penjualan film. Naskah seperti apakah yang dapat menarik perhatian penonton?

Menyoal proses pengembangan hingga pembuatan naskah film, menjadi bahasan dalam “MPA-ICAD Film Workshop” yang digelar di Hotel Grandkemang, Jakarta. Workshop berlangsung pada 13 Juni, dipandu oleh Stephen Jenner, menghadirkan sineas muda Indonesia; Riri Riza (Sutradara, Produser, Penulis film “Laskar Pelangi”), Joko Anwar (Sutradara, Penulis film “Kala” dan “Modus Anomali”), Teddy Soeriatmadja (Sutradara, Produser, Penulis film “Lovely Man”).

Diskusi menghadirkan tema “Script Development”. Riri Riza merasa perlu memprediksi dalam kebutuhan riset, bukan perkiraan pasti berapa jumlah penontonnya. Sedangkan Joko Anwar justru kebalikannya. “Saya selalu memikirkan penonton. Selama menulis naskah “Modus Anomali”, saya percaya bahwa penulis bisa menulis dengan bebas, tapi penuh tanggung-jawab agar menghasilkan film yang menarik keuntungan,” tegasnya.

Sisi yang berbeda diungkap Teddy Soeriatmadja. Ia tak peduli dengan keinginan penonton. “Saya [pernah] bikin dengan gaya mengikuti ‘kemauan’ pasar. Kalau kita bikin film bagus dipuji gila-gilaan, tapi kalau bikin jelek dibantai gila-gilaan. Saya pikir sebagai filmmaker harus tanggung jawab,“ ujar Teddy.

“Saya pernah merasakan dua sisi itu-- pernah dipuji gila-gilaan, dan di bantai gila-gilaan,  karena filmnya nggak bagus. Kesimpulannya adalah kalau saya mau bikin film, saya yang mengatur semuanya. Kalau filmnya dibantai, yang rugi saya. Jadi saya punya tanggung-jawab terhadap karya,” imbuhnya usai workshop.

Workshop juga menyoal finansial dalam produksi film. Bagi penulis pemula tak perlu khawatir untuk mendapat sumber dana bagi kebutuhan karyanya. Riri Riza mengemukakan cara yang paling mudah melalui jelajah internet. Banyak perusahaan film menyediakan informasi pembiayaan melalui situs-situs di internet. Disitulah pemula bisa mengirimkan karya-karyanya. Yang perlu diperhatikan sebelum mengirimkan naskah, sebaiknya menyesuaikan karya dengan kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut.

Para narasumber membagi pengalaman kepada pemula yang berminat terjun ke industri film. Bagi Riri Riza, apapun yang dilakukan harus bagus. “Anda harus fokus menulis, bukan membuat film yang bagus. Dan tentunya terus belajar”. Begitu juga dengan Teddy yang berujar, “Lebih banyak menulis, lebih banyak belajar. Sineas lainnya, Joko Anwar, memberi masukan untuk mencoba hal-hal sederhana, seperti membuat film pendek. Dari situlah bisa berlanjut menuju lingkaran lain dalam film.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Memetakan Sejarah dan Budaya Nusantara

Koleksi naskah serta dokumen mengenai sejarah dan budaya nusantara semasa kolonialisme Belanda tersebut-- terpajang rapi pada pameran bertajuk “Mapping History” yang diselenggarakan Erasmus Huis dan KITLV. Pada pembukaan pameran, 8 Januari 2013 di Erasmus Huis, Jakarta, mantan presiden ke-4 RI BJ Habibie turut hadir. 


+ lanjut
Mengupas Dilema Perempuan

Film-film pendek yang mengisahkan pilu dan dilema perempuan mewarnai bioskop kecil Athhouse Cinema pada pekan lalu. Film-film yang menggugah inilah karya sutradara perempuan muda Indonesia.


+ lanjut
Persahabatan Rumah di Seribu Ombak

Film Rumah di Seribu Ombak diangkat dari novel berjudul sama karya Erwin Arnada. Film produksi Tabia Film dan Winmark Pictures ini dikemas lewat penggambaran kecantikan alam pulau Dewata dan alur cerita menyentuh.


+ lanjut