home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Sendratari Nyai Dasima
 
> Sendratari Nyai Dasima
Jumat, 15 Juni 2012

Oleh Degina Juvita

Komunitas “Kampus Betawi” (Kampung Anak Muda Pencinta Khusus Betawi) menampilkan pagelaran kolosal sendratari Nyai Dasima. Kisah ini terkait  dengan budaya Betawi, dikemas dalam seni pertunjukan [kolaborasi] yang segar.

Dasima, perempuan pribumi dan dinikahi dermawan asal kerajaan Inggris, Sir. Edward William. Keduanya hidup bahagia hingga dikaruniai anak. Namun kebahagiaan seolah sirna dan menjelma menjadi konflik--  saat William pindah bekerja ke Inggris, negeri asalnya. Ia tak dapat membawa Dasima dikarenakan status kewarganegaraan.

Selama suaminya di Inggris, Dasima tetap tinggal di Betawi yang kini berjuluk Jakarta. Saat itulah Dasima bertemu pemuda pribumi bernama Samiun. Dasima terpikat dan jatuh cinta kepada Samiun--  yang telah beristri, bernama Hayati. Konflik batin kian pelik-- tatkala Hayati menuntut harta dan memaksa Samiun merebut harta Dasima.

Pagelaran sendratari ditampilkan dalam balutan kekinian. Nuansa lagu pop dari Melly Goeslaw, jazz, rock, dan musik tradisional Betawi. “Saya mencoba mengangkat unsur kekinian, supaya seni tradisi diangkat ke dalam entertainment (hiburan) dan akan lebih menarik,” ujar  Atien, penyelenggara acara.

Sisi artistik panggung pun dipersiapkan matang. Penonton menikmati suasana panggung bercorak Betawi, Inggris, hingga China. Unsur Betawi tampak pada dua ondel-ondel mengapit panggung-- selain simbol bendera Inggris, dan gapura merah berarsitektur China.

 Atien dibantu pemuda-pemudi Kampus Betawi, berlatih dan mempersiapkan pementasan selama lima bulan. Para pemeran dalam Nyai Dasima, tidak hanya berlatih mendalami karakter, tapi juga menguasai gerak tubuh [tari]. Untuk koreografi, Atien dibantu oleh sang istri. “Ungkapan gerak lewat tari juga merupakan ungkapan emosi dari pemeran,” imbuh lelaki lulusan Art Management di Korea Selatan ini.

Sendratari Nyai Dasima, merupakan hiburan kesenian Betawi yang ditampilkan di acara pembukaan "Pagelaran Betawi Tempo Doeloe", di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Acara ini diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, untuk melestarikan kesenian Betawi yang kian terpinggirkan. Beragam kesenian hingga kuliner khas Betawi hadir dalam rangkaian kegiatan HUT DKI Jakarta ke- 485 yang berlangsung hingga 17 Juni mendatang.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Drama Anak-Anak Pekerja Rumah Tangga

Selain drama, ILO juga meluncurkan publikasi baru berjudul “20 Tahun Penanggulangan Pekerja Anak di Indonesia” disertai presentasi oleh Michiko Miyamoto, Deputy Director ILO.


+ lanjut
Menengok Karya Para Guru

Ya, coba saja pencet nomor telpon genggam yang tertera dibawah angklung itu. Sontak angklung akan bergerak menghasilkan irama. Bila secara bersama pengunjung menelpon, jadilah komposisi bunyi (musik) serupa orkestra angklung.


+ lanjut
Mantra dan Sensualitas Di Atas Panggung

Ine menjadi monolog dengan menarasikan larik-larik puitis di pertunjukkan teater asal Perancis ini. Mantra-mantra yang diucapkan Ine menjadi pengiring dua penari yang mendampinginya di panggung.


+ lanjut