home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Denyut Panggung Sandiwara
 
> Denyut Panggung Sandiwara
Senin, 18 Juni 2012

Oleh Yuli Yanti

Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan…” Itulah lirik lagu ‘Panggung Sandiwara’ yang dipopulerkan Ahmad Albar vokalis band rock God Bless. Berangkat dari ide lagu itu, komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta menggelar pameran fotografi yang bertajuk “Dunia Panggung Sandiwara”.

Dengan pemahaman fotografi yang luas,  mereka tak sekedar menyajikan  teknik memotret panggung dengan berbagai ukuran dan tata cahaya lampunya. Serta merekam peristiwa diatas panggung dan dibelakang panggung. Foto-foto mereka juga  bercerita tentang sebuah kehidupan di panggung dunia yang dilakoni termasuk bahasa tubuh dan gerak. Siapapun bisa menjadi aktor, tak terkecuali seekor ayam!

Bagi Haryorachmantyo Wijowarastro mendokumentasikan kehidupan ayam petarung diatas panggung dan diluar panggung lebih menarik untuk dikisahkan.  Ia mengabadikan setiap momen kehidupan ayam-ayam gladiator itu—sekaligus pemiliknya. Saat  dilatih, diberi makan, diperjual-belikan hingga diadu dalam daerah Outstadt yang menjadi panggung aduan.

Seniman panggung  Pardiman Cakil, begitu piawai memerankan tokoh Cakil. Ia berhasil membuat kagum dan terkesima penonton dalam pertunjukkan “Wayang Tobong” di Taman Hiburan Rakyat Yogyakarta, beberapa dekade lalu. Sosok Pardiman  diceritakan dalam bentuk foto esai yang  menarik oleh  Abdul Aziz Prastowo.

Kehidupan seni pertunjukan tak melulu menyajikan penampilan para seniman diatas panggung. Penonton pun menjadi unsur yang tak kalah  penting. Apalah artinya sebuah pertunjukkan panggung tanpa riuh penonton, begitu kata Andri Susilo Putro,  yang mengabadikan momen penuh ekspresi dari wajah-wajah penonton dalam setiap pertunjukkan.

Jika dalam sebuah panggung ada aktor, didalamnya pun melibatkan bahasa tubuh dan gerak--  untuk menyampaikan sebuah pesan kepada penonton atau aktor lainnya.  “Kita bisa berdusta dengan kata-kata, namun tidak dengan tubuh kita, “ itulah yang disampaikan Widiana Martiningsih, satu-satunya perempuan yang ikut dalam pameran ini. Widi  memotret detail bagian-bagian tubuh perempuan dalam gerakan tari sebagai simbol bahasa tubuh.       

Pameran fotografi dibuka pada Minggu malam, 17 Juni 2012 di Kelas Pagi Yogyakarta, dimeriahkan oleh  Alterego Band, Sophia Sovia Stolka band, Stand Up comedy UNY dan Balinese Dance. Pameran diikuti oleh fotografer Abdul Aziz Prastowo, Andri Susilo Putro, Haryorachmantyo Wijowarastro, Hendric Laksana, Hendy Winarthadan Widiana Martiningsih, serta dikuratori oleh Edial Rusli,  berlangsung hingga 30 Juni 2012.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Meramu Foto dan Grafis!

Komunitas Jakarta Art Lab berhasil memamerkan karya fotografis “Baca Merah Putih”. Bekerjasama dengan Teater Kail dan Pelangi. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menggelar peluncuran buku antologi puisi, serta pentas seni pertunjukan lainnya. 


+ lanjut
Perjalanan Haji Dua Fotografer

62 frame foto karya dua fotografer dipamerkan "Makkah" di GFJA. 144 foto lain dimuat dalam buku. Dokumentasi fotografi Makkah ini mengisahkan proses ibadah Haji yang sarat makna.


+ lanjut
Memaknai 'Playground' Dalam Fotografi

“Hmmm... Alas kaki!” Bagi perempuan Indonesia mengesankan gaya dan prestise sosial. Untuk mencapai kebutuhan itu,  tanpa sadar kaum hawa telah menciptakan hal-hal paradoks dalam diri mereka.


+ lanjut