Oleh Yuli Yanti
“Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan…” Itulah lirik lagu ‘Panggung Sandiwara’ yang dipopulerkan Ahmad Albar vokalis band rock God Bless. Berangkat dari ide lagu itu, komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta menggelar pameran fotografi yang bertajuk “Dunia Panggung Sandiwara”.
Dengan pemahaman fotografi yang luas, mereka tak sekedar menyajikan teknik memotret panggung dengan berbagai ukuran dan tata cahaya lampunya. Serta merekam peristiwa diatas panggung dan dibelakang panggung. Foto-foto mereka juga bercerita tentang sebuah kehidupan di panggung dunia yang dilakoni termasuk bahasa tubuh dan gerak. Siapapun bisa menjadi aktor, tak terkecuali seekor ayam!
Bagi Haryorachmantyo Wijowarastro mendokumentasikan kehidupan ayam petarung diatas panggung dan diluar panggung lebih menarik untuk dikisahkan. Ia mengabadikan setiap momen kehidupan ayam-ayam gladiator itu—sekaligus pemiliknya. Saat dilatih, diberi makan, diperjual-belikan hingga diadu dalam daerah Outstadt yang menjadi panggung aduan.
Seniman panggung Pardiman Cakil, begitu piawai memerankan tokoh Cakil. Ia berhasil membuat kagum dan terkesima penonton dalam pertunjukkan “Wayang Tobong” di Taman Hiburan Rakyat Yogyakarta, beberapa dekade lalu. Sosok Pardiman diceritakan dalam bentuk foto esai yang menarik oleh Abdul Aziz Prastowo.
Kehidupan seni pertunjukan tak melulu menyajikan penampilan para seniman diatas panggung. Penonton pun menjadi unsur yang tak kalah penting. Apalah artinya sebuah pertunjukkan panggung tanpa riuh penonton, begitu kata Andri Susilo Putro, yang mengabadikan momen penuh ekspresi dari wajah-wajah penonton dalam setiap pertunjukkan.
Jika dalam sebuah panggung ada aktor, didalamnya pun melibatkan bahasa tubuh dan gerak-- untuk menyampaikan sebuah pesan kepada penonton atau aktor lainnya. “Kita bisa berdusta dengan kata-kata, namun tidak dengan tubuh kita, “ itulah yang disampaikan Widiana Martiningsih, satu-satunya perempuan yang ikut dalam pameran ini. Widi memotret detail bagian-bagian tubuh perempuan dalam gerakan tari sebagai simbol bahasa tubuh.
Pameran fotografi dibuka pada Minggu malam, 17 Juni 2012 di Kelas Pagi Yogyakarta, dimeriahkan oleh Alterego Band, Sophia Sovia Stolka band, Stand Up comedy UNY dan Balinese Dance. Pameran diikuti oleh fotografer Abdul Aziz Prastowo, Andri Susilo Putro, Haryorachmantyo Wijowarastro, Hendric Laksana, Hendy Winarthadan Widiana Martiningsih, serta dikuratori oleh Edial Rusli, berlangsung hingga 30 Juni 2012.











