Oleh Yuli Yanti
Sebuah gitar mampu mengubah hidup gitaris klasik Jubing Kristianto. Dia memulai hidup barunya dari nol, setelah 13 tahun menjadi jurnalis di tabloid nasional. Jubing kini dikenal sebagai komposer gitar musik instrumental beraliran klasik.
Petikan chord 6 senar gitar mengalun, dipetik jari-jari lincah Jubing. Lagu anak-anak lawas “ Becak” karya Ibu Sud, di aransemen ulang-- menjadi musik yang kaya melodi. Diambil dari album pertamanya “Becak Fantasy”. Penonton menyaksikan konser tunggal gitaris finger style ini dengan kekaguman. Usai membawakan satu musik instrumental, tepuk tangan penonton menggema di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta, malam Kamis, 28 Juni.
“Saya menemukan permainan melodi dalam satu chord dari komposer ternama, Johan Sebastian Bach. Ketemu irama 6/8, irama yang saya suka. Irama-irama yang unik membuat saya semangat belajar gitar. Instrument Johan Sebastian Bach seperti melihat arsitektur yang megah,“ ujar Jubing, yang menekuni gitar dari kecil.
Pertunjukkan Jubing di Yogyakarta memang berbeda. Penonton tak hanya disuguhi-- kepiawaian bermain gitar dengan karakter khas memainkan melodi chord 9 dan akustik. Tapi juga cerita perjalanannya-- ketika banting setir dari seorang jurnalis menjadi musisi. Konser bertajuk “Jalan Hidup 6 Senar” ini tampak hidup dan diperkaya interaktif antara Jubing dan penonton.
Disusul lagu “Delman” yang di aransemen ulang sama seperti lagu “Becak”. Lagu “Delman Fantasy” pernah meraih juara pertama lomba musik Yamaha Festival Gitar Indonesia pada 1987 lalu. Setelah sebelumnya, hanya masuk semifinal dalam perlombaan yang Jubing ikuti sejak 1984. Jubing pun semakin serius menekuni gitar hingga menetaskan album.
Perjalanan musiknya sempat terhenti, ketika pria kelahiran Semarang, 9 April 1966 lalu itu-- mengalami kesulitan ekonomi di keluarganya. Jubing terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Satu-satunya cara yakni menulis. “Sebenarnya tahun itu saya masih kuliah, main gitar terus. Meskipun akhirnya saya lulus juga. Saya sempat menjadi wartawan tabloid Nova. Pada waktu itu tulisan menghasilkan duit, kirim-kirim tulisan sampai akhirnya dipanggil kerja di tabloid Nova. Kerjaan saya habis nulis bermain gitar,” kisah Jubing.
Selama 13 tahun riwayatnya menjadi jurnalis-- hingga menempati posisi mapan sebagai Manajer. Takdir berkata lain, Jubing memutuskan memilih hidup sebagai gitaris dan memulainya karir musiknya dari nol pada 2003. “Orang bilang itu ide gila, saya memutuskan kerja yang sudah 13 tahun. Dulu pertama jadi wartawan bahagia. Ada kesenangan bertemu dengan bermacam-macam orang. Dari yang gembel sampai bertemu Presiden. Saya memulai lagi dari nol, dan di dukung isteri, ”ujar komposer yang gemar mengaransemen lagu anak-anak.
Jari-jari cergas Jubing beraksi lagi memetik senar gitar. Beberapa lagu dimainkan santai-- dengan aransemen musik melintas zaman, dan genre berbeda, seperti lagu anak-anak. Terdengar sound track film “Mission Impossible”, lirik lagu “Sinaran” milik Sheila Madjid, lagu daerah hingga tembang lawas dibawakan Jubing dengan memadukan irama perkusi. Jubing menyulap pertunjukkan gitar tunggalnya bak orkestra, sungguh mengasyikkan.
Di penutup, Jubing didaulat membawakan musik Selamat Ulang Tahun dari Zamrud, sebagai hadiah untuk Koran Kompas yang berulang tahun ke-47, serta dua lagu daerah Rek Ayo Rek dan Bungo Juempa dari Aceh. “Kalau kita punya kecintaan terhadap sesuatu kita suka menjalaninya nanti akan sukses, saya lebih puas dengan kerja yg saya lakukan sekarang bisa membahagiakan orang,” ujar Jubing yang telah mengeluarkan empat album; Becak Fantasy, Delman Fantasy, Hujan Fantasy dan Kaki Langit.










