home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Memetakan Sejarah dan Budaya Nusantara
 
> Memetakan Sejarah dan Budaya Nusantara
Rabu, 09 Januari 2013

Oleh Vicharius Dian Jiwa

Van Imhoff atau Van Gustaaf Willem Baron Van Imhoff berpose seperti seorang raja. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang ia senderkan pada kursi kayu. Gubernur Jenderal, pemimpin VOC itu berdiri dengan gagah dan amat percaya diri di depan tembok yang dihiasi relief. Di sisi kanan sang Gubernur terdapat bola dunia yang tergeletak rapi pada sebuah meja. Ph Van Dijk, sang pelukis menambahkan figur jongos perempuan berkulit hitam yang sedang mengintip di balik tirai. Lukisan tersebut merupakan salah satu koleksi yang berhasil dikumpulkan oleh Koninklijk Instituut voor Taal Landen Volkenkunde (KITLV), sebuah lembaga penelitian tertua di Belanda.

KITLV yang berdiri pada 1851 memang mengkhususkan pada penelitian dan pengumpulan informasi mengenai daerah bekas jajahan Belanda seperti Hindia Belanda, Suriname, Netherlands Antilles, dan juga Aruba. Figur budak perempuan pada lukisan Van Imhoff merupakan informasi visual yang menggambarkan bahwa Belanda sempat menjejakkan kaki bukan hanya di Asia-- namun di Suriname yang dihuni oleh warga keturunan Afrika.

Tak sekedar lukisan. KITLV secara inten mengoleksi naskah-naskah peninggalan masa kolonialisme di nusantara. Seperti Babad, naskah yang berisi kronik raja-raja Jawa. Di bagian  sampul Babad berhiaskan lukisan yang elok dan menceritakan riwayat Pakoe Alam I di Yogyakarta yang diduga menjadi keturunan ke-58 Adam dan Hawa. Pada 1835, naskah tersebut dimiliki oleh F.G Valek, Residen Djogjakarta namun diambil alih oleh Pangeran Hendrik, adik Willem III yang pernah mengunjungi Hindia Belanda.  Jejak naskah peninggalan nusantara yang lainnya terdapat juga pada sepenggal halaman buku harian Bugis. Sejak abad ke 17, orang Bugis memiliki kebiasaan menulis buku harian yang merupakan bagian dari sastra Bugis. KITLV menemukan salah satu penggalan buku harian yang bercerita tentang kunjungan pelaut Bugis pada Letnan Gubernur Th. S Raffles pada 17 Mei 1814.

Koleksi naskah serta dokumen mengenai sejarah dan budaya nusantara semasa kolonialisme tersebut--  terpajang rapi pada pameran bertajuk “Mapping History” yang diselenggarakan Erasmus Huis dan KITLV. Pada pembukaan pameran, 8 Januari 2013 di Erasmus Huis, Jakarta, mantan presiden ke-4 RI BJ Habibie turut hadir. Menurutnya,  pameran ini sebagai sarana pengenalan kembali sejarah bangsa yang sering terlupakan. KITLV telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki sejarah nusantara yang banyak diminati oleh bangsa lain. “Bangsa kita memiliki jejak intelektulitas dan kebudayaan yang panjang. Dan pameran ini menjadi salah satu pembuktiannya. Terima kasih kepada KITLV, ”kata Habibie bangga.

Pameran Mapping History yang berlangsung hingga 15 Februari 2013 tersebut. Pengunjung dapat melihat jejak-jejak intelektual melalui lukisan maestro Raden Saleh, pelukis Jawa yang sempat meraih beasiswa dari kerajaan Belanda untuk belajar melukis itu. Pada karyanya berjudul “Flood on Java” atau Banjir di Jawa, banyak kalangan menilai bahwa ia sangat terpengaruh pada karya pelukis Eropa, Theodore Gericault yang berjudul  “Le Radeau de la Meduse”.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Menari Adalah Jiwa Mereka

Proyek Urban Street Dance ini mendapat apresiasi dan dukungan dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta serta Erasmuis Huis sebagai karya seni kontemporer karya anak negeri. Meskipun bergaya tarian barat, dalam beberapa gerak, si penari juga seringkali menampilkan tari tradisional yang dikemas dengan modern. Pastinya, selepas acara irama musik dan gaya tari mereka seakan masih merasuk dalam pikiran, membuat kita pun serasa ingin bergoyang. 


+ lanjut
Kolaborasi Musisi Belanda - Indonesia

Vokalis grup band Awkward I itu begitu ringan dan mengalir ketika hadir dalam konser musik di Erasmus Huis, Jakarta, Senin malam, 21 Januari 2013. Karakter suara tenornya mengingatkan kita pada Chris Martin, vokalis grup band Coldplay. Diederik tak sendirian malam itu. Lelaki asal Amsterdam, Belanda tersebut membawa serta anggota Awkward I lainnya. 


+ lanjut
40 Tahun, Gerak Artistik Introdans

Kelompok tari balet Introdans asal Belanda, tak lagi muda, berumur 40 tahun. Ekspresi gerak tubuh lahir dari koreografi ternama, Hans Van Manen, yang merayakan ulang tahun ke- 80.


+ lanjut