home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Jelajahi Waktu Dengan Pakuwon
 
> Jelajahi Waktu Dengan Pakuwon
Kamis, 05 September 2013

Oleh Yuli Yanti

Foto: Bentara Budaya Yogyakarta

Bagi orang Jawa, kalender bukan hanya untuk mengetahui tanggal, hari, bulan dan tahun. Tapi juga untuk mengetahui peruntungan dan nasibnya. Salah satu ilmu dalam kalender Jawa  adalah Pawukon. Akar kata pawukon adalah wuku yaitu  dikenal sebagai waktu. Lama satu wuku adalah tujuh hari, terhitung dari hari minggu ke sabtu. Dan memiliki 30 wuku.

Uniknya dalam pakuwon itu digambarkan dengan tokoh-tokoh pewayangan serta karakter watak dan kepribadian seseorang yang dilambangkan dengan gambar unggas, naga, tombak dan sebagainya. Bentuknya seperti manuskrip atau primbon yang ditulis  dalam aksara jawa dan diyakini masyarakat Jawa selama berabad-abad. Penulisannya melalui proses niteni atau memperhatikan setiap kelahiran waktu orang tersebut.

Kumpulan manuskrip ini dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta bertajuk Pawukon 3000 tahun dalam bentuk lukisan. Pameran Pawukon berlangsung mulai tanggal 3 - 11 September 2013. Menurut kurator Hermanu, pameran Pawukon ini dirancang untuk menghormati almarhum astronom Jawa  Raden Brotokesowo yang berdomisili di Yogyakarta sejak tahun 1950an.  Dalam ilmu hisab yang dipelajarinya, Brotokesowo dapat membuat perhitungan yang akurat hingga tahun 3200. atau sampai milenium keempat di bumi ini.

“Beliau adalah seorang ahli hisab astronomi jawa yang sangat jarang waktu itu. Beliau katakan bahwa tanggal dalam setiap bulan Masehi atau Hijriah bisa berubah-ubah ada yang 29 atau 30 harii setiap  bulannya. Namun hari dan wuku akan tetap selamanya. Yaitu hari Minggu sampai Sabtu atau pasaran mulai Pahing, Pon, Kliwon, Wage dan Legi akan selalu bergulir,” ujar Hermanu.

Lukisan tradisional Pawukon ini merupakan karya Subandi Giyanto dari Gendeng Kasihan Bantul Yogyakarta dan karya almarhum Soelardi dari Surakarta yang aktif menulis wayang sekitar tahun 1930 sampai 1960an.
 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Aneka Desain Dari Bahan Bekas

Crea-Re juga mendesain produk ramah lingkungan, diantaranya tas dari kain terpal bekas mobil truk, tas gitar dari bekas terpal mobil, sabuk pengaman mobil, dan tas senar drum berbahan  dari bekas terpal mobil. . Crea-Re akan memajang sejumlah desain produknya di The London Design Festival pada 13-21 September. 


+ lanjut
Kota Sumber Inspirasi Perupa

Pameran ini merupakan ajang untuk mengumpulkan para perupa dari berbagai daerah di Jakarta sekaligus melihat perkembangan karya-karya mereka. Pada pameran ini banyak ditampilkan visualisasi terhadap keadaan Ibu Kota di masa sekarang yang masih banyak permasalahan, baik sosial, budaya, politik dan masalah-masalah perkotaan lain seperti banjir, transportasi termasuk kemacetan yang hingga saat ini masih belum terselesaikan.


+ lanjut
Cerita-Cerita Tentang Pejuang Lingkungan Indonesia

Bagi para penyelam, Pulau Bangka merupakan satu dari sekian banyak surga di negeri ini. Keindahan bawah lautnya menjadi daya tarik sendiri untuk menjelajahinya secara langsung. Sayang keindahan itu kini terancam ulah perusahaan tambang yang ingin mengeksploitasi sumber daya pasir besi yang terkandung di dalamnya.


+ lanjut