home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Karya Seni Grafis, Lampau dan Kini
 
> Karya Seni Grafis, Lampau dan Kini
Selasa, 20 Maret 2012

Oleh Yuli Yanti

Gambar-gambar grafis masa lalu dan kini dipamerkan di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta.  Hasil cetak gambar dibuat di Indonesia pada pertengahan tahun lalu, sebagian di Eropa;  gambar  seni grafis Eropa sebelum tahun 1900. Sementara karya  edisiYogya dibuat oleh para seniman grafis Minggiran, Yogyakarta yang bertema “Here And There, Now And Then”.

Terlihat gambar-gambar grafis yang diadaptasi dari hikayat kitab Injil, berkisah tentang kehidupan para nabi dan cerita abad lampau.  Sedangkan, gambar-gambar yang dibuat oleh beberapa seniman yang dalam pameran mengisahkan, kehidupan para tokoh perlawanan dan abstrak tentang masa kini.

Karya-karya menggambarkan wajah para tokoh pejuang Hak Asasi Manusia seperti Mahatma Gandhi, Munir, John F. Kennedy, dan Tan Malaka--  di buat dalam satu bingkai yang berjudul “Ode Bagi Penentang Arus” karya pelukis Agus Suwage.  Pada karya Bambang Toko Witjaksono diambil dari cerita bergambar komik yang berjudul “Cintamu Tak Semurni Bensinku”.

Salah satu gambar yang dicetak kembali yaitu cerita perang di German pada abad  ke 7,  dibuat oleh seorang Guru Besar bernama Jacques Callot  pada 1592-1635. Gambar ini merupakan proyek terakhirnya untuk seri ini. 

Tony  Goddfrey, pemerhati seni, sangat tertarik dengan respon para seniman terhadap seni cetak grafis masa lampau dari koleksinya. Para seniman yang mengikuti pameran ini memilih sendiri  dari  koleksi Goddfrey untuk diadaptasi sesuai dengan karyanya.

“Saya tahu, karya seperti ini bukan pangsa di Indonesia dan Asia Tenggara. Dan suatu usaha agar para kolektor barang seni lebih peduli pada karya-karya seperti ini. Mudah-mudahan pameran ini merupakan cara menunjukkan kepada orang-orang luar Indonesia yang bekerja di sini,” ungkap Tony.

Gambar-gambar  grafis karya seniman lampau dan seniman Indonesia kini;   A. Nawangseto, Ade Darmawan, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Andre Tanama, Ay Tjoe Christine, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Daniel Cahya Krisna, Deni Rahman, FX Harsono, Lulus Setyo, Maryanto, Mella Jaarsma, Muhammed Yusuf, Rully, S. Teddy D, Tape,Theresia Agustina Sitompul, Tintin Wulia, Tisna Sanjaya, Titarubi, Ugo Untoro, Uji Handoko, Wimo Ambala Bayang dan Yuli Prayitno dapat dikunjungi  di Langgeng Art Foundation (LAF) hingga 15 April mendatang. 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Melacak Memori Visual 'Mocca' Dalam Film

Untuk mengenang ‘perjuangan’ sekaligus melepas rindu kepada band Mocca, Good News Film mempersembahkan film dokumenter berjudul “Life Keeps on Turning”.


+ lanjut
Bernostalgia Lewat Poster Film Klasik

Anak-anak muda dalam komunitas Gambarselaw, menyajikan film-film Indonesia klasik ke dalam karya poster dengan beragam teknik dan ilustrasi masa kini.


+ lanjut
Monolog Satir Tentang Sang Wakil Rakyat

Di panggung Bentara Budaya Jakarta, Ine beraksi dari sebuah sudut dengan menggunakan sebuah topeng. Ia membuka pertunjukkan dengan sedikit memainkan tarian dengan melekukkan tubuhnya. Sesaat kemudian naskah monolog pun mulai dimainkannya. Ya, Ine memang sedang memainan sebuah monolog namun ada pelibatan dari komunitas Gradag-Grudug agar monolog terlihat lebih atraktif.


+ lanjut