Oleh Degina Juvita
Beragam puisi tertempel di tiap ruang Reading Room, Kemang, Jakarta. Judul yang berbeda, tema yang beragam, dan gaya bahasa yang bervariasi. Hanya satu yang sama, tak satu pun puisi mencantumkan nama sang penulis. Lalu bagaimana kita dapat mengenali identitas si pembuat puisi?
Apalah arti sebuah nama. Mungkin kalimat ini cocok menggambarkan kondisi ini. Puisi-puisi tersebut memang sengaja ditampilkan tanpa nama. Komunitas Bunga Matahari (BuMa) menggagas sebuah acara bertajuk “Festival Tanpa Nama” dengan menghadirkan beragam kegiatan seputar menulis puisi.
Puisi-puisi tanpa nama menjadi salah satu bagian dari acara. Kegiatan ini merupakan bentuk dari gerakan eksperimen membaca. “Kebanyakan orang yang tidak saja di dunia puisi tapi juga di social media menilai puisi karena nama penyairnya, bukan karyanya. Jadi ini bagian dari eksperimen membaca,” ujar Mikael, anggota Komunitas BuMa.
Empat puluh puisi dipilih dan ditampilkan dalam pameran. Pengunjung yang datang akan diberi 5 buah stiker putih untuk memilih lima puisi favorit mereka. Satu per satu puisi dibaca tanpa mengenal siapa pengarangnya. Lalu tempelkan stiker di kertas puisi sebagai tanda voting. Menjelang akhir acara, panitia akan menghitung dan memilih lima puisi yang mendapat stiker terbanyak. Kemudian puisi-puisi tersebut akan didiskusikan bersama. Identitas pengarang pun akan dibuka saat diskusi. Puisi-puisi yang dipamerkan merupakan gabungan antara karya penyair yang sudah terkenal dan penyair dari komunitas BuMa.
Sederet kegiatan lain, turut dihadirkan dalam Festival Tanpa Nama yang berlangsung pada Sabtu, 28 April. Acara ini sekaligus menjadi peringatan Ulang Tahun Komunitas BuMa yang ke-12. Ada pemutaran film-film bertema penulis. Film berjudul “Bulan Tertusuk Ilalang” karya Garin Nugroho adalah salah satunya.
Kemudian, ada pemutaran video puisi karya anggota Komunitas BuMa. Di antara tiga video yang diputar, salah satunya merupakan video kiriman anggota Komunitas BuMa yang berasal dari Kopenhagen, Denmark. Ia membaca puisi berjudul 'The Field' dalam bahasa Denmark. Puisi ini mengisahkan suara-suara lapangan yang berpikir akan alam dan kehidupan sekitar. Niditya, yang juga anggota BuMa, sengaja membuat terjemahan puisi yang ditampilkan dalam video berisi macam-macam lapangan hingga gedung-gedung yang mewakili narasi dalam puisi.
Menurut Ninditya, adanya kombinasi visual dan suara dalam video puisi, membuat pesan-pesan di dalamnya lebih tersampaikan. Walaupun orang-orang di luar sana bebas memaknai arti dalam puisi, tapi paling tidak kita bisa lebih membantu lewat visual video.
Seperti halnya slogan Komunitas BuMa yang berbunyi 'Semua Bisa Berpuisi', maka semua pengunjung baik itu penulis ataupun bukan, diperbolehkan menulis ataupun membacakan puisi di acara tersebut. Komunitas BuMa yakin kalau puisi bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kegiatan-kegiatan berpuisinya sering dilakukan di ruang publik, seperti kafe, taman kota, bioskop dan stasiun kereta api, dengan gaya yang santai dan menyenangkan.



.jpg)






