Oleh Farida Indriastuti
Foto: Dokumentasi Kemal Jufri
Suara etnomusikolog, Nyak Ina “Ubiet” Raseuki, menyembul di antara kisah-kisah liris pada tayangan multimedia olahan Heru Atmadja dan IB Chrisma-- berdurasi 12 menit 40 detik, pada Rabu (16/5) di Teater Salihara. “Aftermath: Indonesia in the Midst of Catastrophes” merupakan tajuk pameran fotografi, sekaligus presentasi audio-visual yang menampilkan karya-karya Kemal Jufri, jurnalis foto Indonesia.
Pameran “Aftermath” diadakan di Galeri Salihara, Jakarta, selama 16-29 Mei. Terlihat rekaman kepanikan, orang-orang berlari menghindari gaduh Gunung Merapi yang memuntahkan lahar panas, hingga menelan korban jiwa.
Jauh sebelum peristiwa miris itu. Kemal Jufri bersama istrinya, Dina Purita Antonio-Jufri (jurnalis lepas) mendatangi bencana Tsunami Aceh yang mengoyak rasa kemanusiaan. Kemal memotret ragam peristiwa yang mengejutkan-- kepedihan yang tak terperikan dari peristiwa konflik di Aceh, kekerasan di Kalimantan hingga Maluku, bahkan bencana alam yang menimpa negeri ini.
Sebagai jurnalis foto, instingnya tajam terasah kala melihat beragam objek-- beragam peristiwa hingga malapetaka yang disebabkan kelalaian manusia, seperti lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, yang dipotret Kemal pada 20 Agustus 2008. “Saya ingin melangkah lebih jauh sebagai jurnalis foto dan menggalang dana untuk para korban,” ujar Kemal.
Komposisi “Nde A E” karya Dimawan Krisnowo Adji (pemain celo) membelah malam. Denting dawai celo meleburkan kepedihan-- seolah hidup memberi secercah harapan. Ada senyum, di tengah pedih yang mendera-- dikisahkan Kemal, 25 Januari 2005 di Ulee Lheue, Banda Aceh, melalui foto berjudul “In the aftermath of the tsunami”. Terlihat seorang ayah dengan putri kecilnya tertawa sembari memainkan boneka lusuh. Di sekeliling, berlatar puing-puing reruntuhan bangunan-- akibat gelombang Tsunami dan gempa dahsyat.
Siapa tak kenal sosok Kemal Jufri? Jurnalis foto dengan reputasi internasional. Karya-karya fotonya menghias media massa internasional; TIME Magazine, Newsweek, The New York Times, STERN, Der Spiegel dan masih banyak lagi. Pada 1996, ia adalah fotografer Agence France Presse (AFP) biro Jakarta, beralih menjadi fotografer Asiaweek hingga tutup usia pada 2001.
Penghargaan internasional pun diraih, diantaranya The World Press Photo, Pictures of the Year International, National Press Photographers Association’s Best of Photojournalism, Prix De La Photographie Paris, China International Press Photo Contest dan masih banyak lagi.
Dalam pesan tertulisnya kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Matuloh mengungkapkan, “Fotografi adalah pena visual yang dapat digunakan dalam berbagai cara, tergantung pada apa yang hendak dicapai fotografernya. Dalam Aftermath, Kemal mencoba menyampaikan intisari pemikirannya dengan menyusun kolase karya-karya yang dibidik dari sejumlah tempat terjadinya bencana alam dan bencana buatan manusia”.
Pada pameran ini, Kemal ingin memaparkan kemenangan jiwa manusia-manusia yang sesungguhnya rapuh, namun dapat melewati masa perih yang menyesakkan dan sarat keputus-asaan. Foto-fotonya tak luput dari peristiwa, mengabarkan fakta dan mendokumentasikan kisah-kisah perjuangan hidup manusia.
Dari hasil penjualan foto-foto pameran “Aftermath” akan digunakan Kemal membantu para korban di berbagai daerah bencana, selain foto-foto itu diterbitkan menjadi buku yang segera rilis.











