home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Kreasi Pencinta Kertas
 
> Kreasi Pencinta Kertas
Minggu, 27 Mei 2012

Oleh Degina Juvita

Selain berfungsi sebagai media untuk menulis dan menggambar, kertas dapat menjadi alternatif untuk menciptakan karya lain. Contoh saja, kreativitas paper craft. Kerajinan ini dapat dibuat dengan cara sederhana, dan menghasilkan bentuk yang beragam. Selain unik dan menarik.

Komunitas Paper Replika Indonesia (Peri), menjadi wadah perkumpulan berbasis online untuk berbagi-- sekaligus menggali kreativitas dengan bahan kertas. Komunitas ini juga  tempat berkumpul para desainer dan paper craft builder. Kebanyakan orang berkreasi dengan kertas melalui  teknik lipat kertas alias origami. Namun komunitas Peri lebih mengutamakan teknik ichinogami. Origami merupakan seni melipat kertas tanpa menggunakan gunting, perekat, atau alat bantu lainnya, sedangkan ichinogami boleh menggunakan alat bantu, seperti gunting ataupun perekat.

Ichinogami dapat menghasilkan berbagai bentuk replika. Komunitas Peri menyediakan berbagai pola untuk dijadikan replika mainan kertas. Dua prinsip utama dalam paper craft adalah desain dan perakitan. Desainer bertugas untuk membuat desain atau pola kertas-- sebelum dapat dirakit menjadi suatu bentuk atau benda. Sedangkan builder (perakit) adalah orang yang merakit pola yang sudah tersedia. Menurut penuturan Rauf Raphanus, Event Manager Komunitas Peri, mendesain paper craft bukanlah hal yang mudah. “Indonesia baru memiliki 20 desainer paper craft,” ujarnya.

Perkembangan paper craft terjadi di beberapa negara, dan paling pesat terjadi di Jepang. Banyaknya karakter games, animasi, atau film di Jepang, membuat perkembangan paper craft semakin cepat membiak. Kreativitas para desainer pun bisa tersalurkan. Sedangkan di Indonesia, paper craft belum banyak dikenal. “Indonesia masih menganggap kertas sebagai material biasa dan tidak mempunyai value,” kata Rauf.

Paper craft dapat dirakit dengan kertas berjenis apapun, dan disesuaikan dengan kebutuhan. Jenis yang paling sering digunakan adalah inkjet paper dan art carton. Ukuran polanya bisa dibuat sesuai keinginan. Proses pembuatan desain terhitung rumit. Langkah awal, mendesain dengan software 3D max, yang kemudian diubah menjadi format 2D.

Kreasi unik  ini bisa menjadi pengganti koleksi, kado, souvenir, hingga perangkat marketing. Komunitas Peri telah berhasil menggaet beberapa agensi dan produk untuk dijadikan mitra bisnis. Bahkan kreasi replika komunitas Peri, sempat dijadikan model iklan suatu produk yang digarap di luar negeri. Berbagai pola paper craft bisa dilihat dan diunduh melalui www.perikertas.com.

KOMENTAR
Nama : anacaraka bali travel (sudarma)
Komentar : saya sangat terkesan dengan kreasi kalian....klu mo pesan bisa gk ya??
KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Tiga Menguak Punk

Penonton terhibur dan rekat dalam satu ikatan kekerabatan dalam keluarga Endank Soekamti alias Kamtis Family. Punk yang identik dengan sikap anarkis justru dimodifikasi oleh Erix dan kawan-kawannya dalam ikatan keluarga. Penonton pun tertib selama pertunjukkan meski sesekali ada aksi moshing dan body surfing di areal utama panggung @america.


+ lanjut
Nikmati Sejenak Musik Jazz Progresive Perancis

Gaya bermusik yang dibawakan oleh Limousine terbilang unik. Grup yang digawangi oleh Laurent Bardaine (keyboard/saxofon), David Aknin (drum), Maxime Delpiere (gitar), Frederic Soulard (keyboard) itu hanya memainkan instrumen musik tanpa lirik. 


+ lanjut
Seni Sebagai Perlawanan!

Yayak atau biasa disapa “Yaya Kencrit” menampilkan puluhan karya-karya poster yang telah ia produksi selama bertahun-tahun di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran yang dibuka pada Jumat 17 Mei 2013 lalu itu-- mengambil tema “Gambar Sebagai Senjata, Rakyat Berjiwa Merdeka”. 


+ lanjut