Oleh Degina Juvita
Di atas meja meleleh, kepala boneka menyatu dengan permukaan meja. Letaknya tak beraturan, dan menggambarkan resah yang disimbolkannya melalui bentuk meja meleleh. Karya mixed media ini diciptakan sesuai curahan hati Natasha Tontey, ia memilih kepala boneka sebagai aksen utama dalam karyanya-- karena itu merupakan barang koleksi yang dimilikinya. “Kebetulan aku koleksi kepala boneka barbie. Ada rasa puas mengoleksi barang-barang yang dibuang dan tidak dibutuhkan orang,” ujar Tontey. Ia juga menggunakan beberapa boneka lainnya, salah satunya Bratz. Dalam karya ini, Tontey mencurahkan resahnya-- terkait ritme kerja di ranah industri.
“Waktu saya habis terkuras di jalan (karena kemacetan), jam kerja yang tak kenal waktu yang membuat saya tidak bisa lagi mengeksplorasi atau belajar hal lain. Karya ini sebagai terapi-- dimana saya belajar untuk menyisipkan waktu di sela-sela kesibukan untuk menggunakan media lain yang belum pernah saya gunakan sebelumnya. ” tambahnya. Karya dari Tontey ini diberi judul “Rhyme Stew”.
Satu lagi karya yang tak kalah unik. Beberapa botol bening transparan, berderet, dan berisi ilustrasi berbahan cat akrilik di atas kertas mika. Setiap gambar mengisahkan sesuatu yang berbeda. Botol-botol unik itu seolah menggantikan bingkai dan kanvas. Karya mixed media ini berjudul “A Little Encounter”, dan dibuat oleh Angela Judiyanto.
Pada media yang berbeda, instalasi hampir menyerupai rumah bedeng. Warna-warni pada dinding berbahan seng dan triplek dibuat tak beraturan. Memasuki ruangnya, seluruh dinding hingga lantai dipenuhi coretan gambar. Terdapat sebuah televisi dengan video rusak. Ruang ini digambarkan sebagai simbol ‘ketidakteraturan’ seperti yang tertera pada judul karyanya “Sara Bara Club”.
Karya-karya tersebut dipajang dalam pameran bertajuk “Exi (s)t #1” dan mengambil tema “Maps, Reimagined”. Exi(s)t merupakan proyek pameran yang diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan, lebih dari sekedar ‘ruang kosong’ di mana karya-karya seni dipamerkan, tetapi menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik. Tema tersebut dipilih untuk menggali setiap seniman menegosiasi posisi mereka-- dalam berbagai peta keseharian yang mereka hadapi.
FX Harsono telah merencanakan pameran ini sejak lama. Ia ingin para seniman muda yang bekerja di industri tetap punya karya, termasuk di dalam art scene Indonesia. Sepuluh karya dari Adnyani Dewi, Dibyokusumo, G.H.O.S.T, Isha Hening, Angela Judiyanto, Ika Putranto, Jonathan Kusuma, Natasha Tontey, Stephany Yaya, dan Caves, dihadirkan dalam pameran ini yang berlangsung di Dia.lo.gue Artspace, Jakarta, hingga 10 Juni mendatang.







