Oleh Degina Juvita
Kelompok penari muda asal Belanda, tampil di panggung. Mereka menamakan diri ‘Subways’. Tidak hanya tari, mereka juga didukung musik dan video. Nama ‘Subways’ diambil dari gerak tari yang diadaptasi dari berbagai negara. Selain menari, mereka juga belajar mengenal serta menggabungkan tradisi dari lintas-negara dalam sebuah pertunjukan panggung.
Sejak September 2011, Subways telah mempersiapkan diri tampil di depan publik dengan energi yang berbeda. Pada 5 Juni, pertama kalinya Subways tampil di panggung Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta.
Gerak tubuh dari delapan penari; Alexander Carbonaro, Kaia Vercammen, Sebastiaan Maurice, Mohammed Naaleye, Theta Tazelaar, Aina Clostermann Climent, Nicky van Cleef, Camille Pidou, sangat enerjik. Mereka tampil diiringi beragam aliran musik, dengan kombinasi video. Bahkan beberapa geraknya terinspirasi gaya keseharian di India, Latin, Urban, African, Rumania, Hawai, hingga gerak wushu dan hard rock.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang keragaman tari yang ada di dunia. Kami ingin berbagi pengetahuan, kesenangan, dan menunjukkan apa yang tubuh kita dapat lakukan dengan tari,” ujar Kaia Vercammen.
Subways merasa prihatin melihat para pemuda tenggelam dalam pengaruh teknologi seperti, internet dan telepon genggam. Mereka ingin menunjukkan bahwa masih ada dunia lain yang jauh lebih menarik, dan penting untuk dinikmati yakni tarian yang energik. Selain di Jakarta, Subways akan tampil di Taman Budaya (Padang), pada 7 Juni, dan Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam (Padang Panjang), pada 9 Juni mendatang.









