home | · | aktual | · | budaya | · | Ragam Kerajinan Tangan Kalimantan Timur
 
> Ragam Kerajinan Tangan Kalimantan Timur
Sabtu, 09 Juni 2012

Oleh Degina Juvita

Suku Dayak di Kalimantan, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya mencapai 405 sub (J. U. Lontaan, 1975). Ini tentu melahirkan keragaman tradisi dan l kerajinan tangan yang beragam. Masyarakat adat Kalimantan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap alam dan lingkungan. Mereka berupaya melestarikan cara hidup tradisional. Kerajinan tangan yang dihasilkan begitu dekat dengan alam, terbuat dari material bambu hingga serat alami.

Keranjang Tayen adalah anyaman rotan yang berfungsi sebagai tempat menaruh beras dan sayuran saat masa panen berlangsung. Tayen juga biasa digunakan saat upacara adat pernikahan suku Dayak-- pengantin wanita memberikan Tayen sebagai hadiah pernikahan kepada pengantin pria. Tayen dibuat oleh suku Dayak Lundayeh, di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.

Topi Silaung Mawatik, terbuat dari bambu yang dianyam dengan motif khas bernama ‘Mata Punai’. Motif itu dibuat dengan prinsip seperti warna mata; hitam dan putih. Adapun warna tambahan merah, digunakan sebagai penghias. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari asam arang untuk warna hitam, dan sari buah rotan untuk warna merah. Topi Silaung biasa dipakai oleh suku Dayak Tahol untuk kebutuhan upacara adat, seperti pernikahan dan perayaan pesta panen.

Adapula topi Cahung Tisi, yang dibuat oleh suku Dayak Aoheng. Jika topi Silaung Mawatik berbentuk segi enam, Cahung Tisi memiliki bentuk bulat. Motifnya lebih berwarna dengan kehadiran warna hitam, merah dan kuning. Material yang digunakan meliputi daun pandan dan kulit pohon.

Lalu Tikar Mat, yang berfungsi sebagai alas tidur atau alas duduk di rumah-rumah tradisional suku Dayak, khususnya Dayak Tenggalan. Warna hitam pada motif tikar dibuat menggunakan bahan alami dari daun yang direbus dengan bubuk besi atau lumpur.

Berbagai produk kerajinan tangan asal Kalimantan Timur ini dipamerkan oleh Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari, di ruang pamer Institute Francais Indonesia, Jakarta, hingga 14 Juni. Selain memamerkan karya-karya dari Kalimantan Timur, yayasan tersebut juga memamerkan beberapa produk kerajinan tangan hasil dari kompetisi desain mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

“Produk pelestarian tidak boleh mengubah yang sudah ada. Hanya dibantu melalui standar kualitas. Tapi ada yang boleh mengambil inspirasinya dijadikan produk pengembangan. Produk pelestarian mengangkat makna, nilai-nilai, serta lain-lain,” ujar Paulus Kadok, Craft Conservation Program-Leader, Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari.

KOMENTAR
Nama : ady
Komentar : thanks banget
Nama : gema
Komentar : gua ganteng
Nama : alfi
Komentar : ingin membuat kerajinan tangan
Nama : keisha
Komentar : namanaya apa
Nama : sidney
Komentar : Terima kasih
KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Warisan Peradaban Dayak Benuaq

Ragam tenun Dayak Benuaq memiliki corak yang khas dan beragam. Titik hitam pada kain tenun ulap doyo yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup warna-- menjadi ciri suku Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantan Timur.


+ lanjut
Kisah Wanita Belanda Dengan Tapol 65

Pada 1970-an, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melepaskan tapol. Meski begitu, mereka belum bebas karena stigma negatif sebagai tapol harus ditanggung oleh setiap tapol. Pemerintah membatasi ruang gerak para tapol. KTP merek diberi inisial ET alias Eks Tapol. Masayarakat harus mengawasi gerak gerik tapol. Jika tidak, tentara bertindak.


+ lanjut
Hiroshima, Ketika Saksi Mata Bercerita

Tanimoto adalah salah satu saksi mata dari 6 korban selamat yang diwawancarai oleh John Hersey, jurnalis asal Amerika Serikat. Hersey melakukan reportasenya yang dibukukan dalam Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan, yang memaparkan kesaksian 6 korban yang selamat tersebut. Sebanyak 100 ribu jiwa tewas atau sekarat, sedangkan 100 ribu orang mengalami luka-luka bakar hanya dalam hitungan detik. Pada saat itu populasi Hiroshima sebanyak 245 ribu jiwa.


+ lanjut