Oleh Farida Indriastuti
“Yang abadi tercipta dari para pujangga...” kalimat itu membuka perhelatan “East Meets West: Telah Berpilin Timur dan Barat”. Sungguh malam syahdu di Goethe-Institut Jakarta pada Senin (11/6). Puisi-puisi ditebarkan suara berintonasi rendah dan tinggi, seolah melagukan syair liris.
Tampak Norbert Baas, Duta Besar Jerman untuk Indonesia di tengah penonton. Inilah rangkaian JERIN dalam peringatan 50 tahun kehadiran Goethe-Institut di Indonesia. Sekaligus meluncurkan buku bilingual Jerman-Indonesia berjudul “Telah Berpilin Timur dan Barat” disusun dari kumpulan puisi terpilih sang maestro Johann Wolfgang von Goethe yang tersohor.
Dua sastrawan Agus R. Sarjono dan Berthold Damshauser membacakan cuplikan puisi Goethe dalam dua bahasa. Dipadu iringan orkestra gamelan Kyai Fatahillah yang mencercah. Ritmik tetabuhan digubah dua komposer Iwan Gunawan dan Dieter Mack.
“Saya senang Anda datang untuk menyaksikan Goethe, penyair Jerman, “ujar Dieter Mack. Panggung tak lagi temaram-- dalam terang Berthold Damshauser bersyair, “Vom Berge in die See [Aus dem Reisetagebuch]. Wenn ich liebe Lili, dich nicht liebte, Welche Wonne gab’ mir dieser Blick! Und doch, wenn ich, Lili, dich nicht liebte, War’, was war’main mein Gluck?”
Agus R. Sarjono pun bersyair dalam bahasa Indonesia-- seolah mengucap diatonik, “Dari Gunung ke Laut [Dari buku catatan harian]. Andai aku tak cinta kau, Lili sayang, Betapa nikmat ini pemandangan! Tapi, Lili sayang, andai pada kau ku tak cinta, Bagaimana mungkin diriku bahagia?”
Itulah syair versi pertama yang ditulis Goethe sebelum putus dengan tunangannya Lili Schonemann. Lalu diiringi musik pada resitasi sebagian tercipta sebagai ‘improvisasi teratur’ bersama dengan Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono.
Komposisi musik Iwan Gunawan “Kulu-Kulu” (2004), “No Name Nothing No. 1” (2011), dan komposisi musik Dieter Mack “Crosscurrents” (2004). Dieter, Profesor untuk komposisi di Universitas Musik Lubeck, cergas memainkan piano mengiringi syair-syair yang dibunyikan Berthold, pengajar bahasa Indonesia dan Sastra di Universitas Bonn.
Saling bersahut menghasilkan komposisi narasi dan musik yang penuh ketukan. Cuplikan puisi-puisi Goethe memang menggoda, liris dan syahdu. Tak ayal filsuf Perancis, Friedrich Nietzsche menjuluki sang pujangga, “Goethe bukan saja tokoh maha besar, ia adalah sebuah kebudayaan”. Karya-karya Goethe melintas batas bak artefak nan abadi. Ia seorang perintis Barat dan Timur tanpa prasangka; “West-Ostlicher Diwan”. Goethe dekat dengan kekayaan puitis dunia timur-- sebagai khasanah ilmu yang menakjubkan. Goethe tak hanya hebat sebagai sastrawan. Ia seorang pelukis, saintis, budayawan, filsuf, bahkan penemu, selain politikus dan negarawan.
Panggung juga dimeriahkan siswa-siswi SMPN Cisarua [Bandung] dengan dua gurunya, Leli Kuniawati dan Yudi Sukmayadi dalam komposisi “Cisarua I” dan “Cisarua II”. Anak-anak memainkan musik tanpa alat musik, dan tercipta komposisi bunyi yang teratur. “Orang Indonesia selalu bilang, gimana main musik tanpa alat? Anda dapat menyaksikan anak-anak bermain musik tanpa alat musik,“ ungkap Dieter Mack.
Dieter seakan bernostalgia-- tatkala 20 tahun lalu mengembangkan program pendidikan musik di Universitas Pendidikan Bandung (UPI). Dan komposisi musiknya beriring dengan syair-syair abadi sang maestro Johann Wolfgang von Goethe.
Dalam bulan mendatang, Goethe-Institut Indonesia akan menggelar beberapa acara untuk merayakan ulang tahun ke- 50-nya sejak pembukaan kantor pertama Goethe-Institut Jakarta pada tahun 1962.









