Oleh Degina Juvita
Malam seolah luruh. Tak lagi hening-- kala kelompok teater KINI menyuguhkan drama komedi satiris “Terpenjara” di Sanggar Baru, Taman Ismail Marzuki. Mereka menghadirkan persoalan miris negeri ini yaitu korupsi yang menjadi kenikmatan, tak ubahnya sajian kuliner lezat di atas piring.
Drama di ruang terbuka. Diawali dengan potongan video [laporan berita televisi] menyoal korupsi yang menggila di negeri ini. Sungguh absurd! Lalu beralih rangkaian cerita-- berlatar ruang kantor APEK (Asosiasi Pemutihan Korupsi) yang menjadi ruang kerja Ketua APEK.
Nurodin, tersangka korupsi yang tertangkap di luar negeri-- karena terlibat proyek pembangunan jembatan sepanjang lima kilometer yang ambruk. Kasus pun diperiksa sang ketua APEK, hingga akhirnya dibawa ke meja persidangan.
Yang Mulia Hakim memimpin persidangan di suatu taman. Sidang dihadiri oleh pembela dan tersangka Nurodin. Konflik pun terjadi-- melibatkan Anggora, pengusaha penyedia bahan baku konstruksi jembatan. Keduanya saling melontarkan tuduhan sengit. Nurodin dan Anggora mengelak, tak mau mengakui sebagai koruptor. Toh, dua seteru itu justru dikenai pasal korupsi. Mengingatkan pada kejahatan kerah putih [korupsi] yang membiak di luar panggung. Itulah realitas sesungguhnya!
Sang sutradara “Bonte” Isman Sumantri, mengemas drama menjadi komedi satiris yang menggelikan. Celoteh dan pelesetan ‘kata’ menjadi bumbu komedi dalam ruang ekspresi yang sederhana. Kisah digarap dalam dua bulan, dibantu Agus Firmansyah sebagai penulis naskah.
Pentas malam itu kian lengkap dengan penampilan ‘Kanagewa’ dari Ki Joko Wasis dan kolega.
Kanagewa merupaka gaya berseni yang diciptakan Ki Joko Wasis. Kata, nada, gerak, dan warna, itulah kepanjangan dari ‘Kanagewa’. Penampilan mereka kaya ekspresi. Ki Joko Wasis mahir menggoreskan warna diatas papan hitam—sembari menari dan bersenandung. Sedangkan Irman Syah dan kawan-kawan mengiringi dengan pembacaan puisi dan petikan gitar, hingga rancak gendang.
Ki Joko Wasis melukiskan potret Raden Saleh dengan iringan lagu dan puisi “Anak Matahari”. “Dia merasakan bagaimana jiwa besar Raden Saleh untuk membangun kepentingan hidup manusia. Bagaimana dia merasa kesenian disitu-- itu menjadi bahasa rupa yang diucapkan Raden Saleh terhadap Ki Joko Wasis. Dan diucapkan Ki Joko Wasis terhadap Raden saleh, ” ujar Irman Syah usai pementasan.








