home | · | aktual | · | budaya | · | Kenangan Masa Kecil di Toko Cemilan
 
> Kenangan Masa Kecil di Toko Cemilan
Selasa, 03 April 2012

Oleh Degina Juvita

Sebuah toko kecil terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, berderet cemilan khas tempo dulu dijual. Aneka panganan ringan dalam toples mungil berbentuk blek krupuk, tersusun rapi di rak kayu dengan beragam warna. Kemasan cemilan yang mengesankan. Sebagian diletakkan di bakul bambu. Hampir semua cemilan yang populer pada 1970an hingga 1990an ada di toko ini.

Eby K. Karsono, Yeany C. Dahlan, dan Satyo, mendirikan toko Cemal Cemil sejak 2004. Berawal dari kerinduan akan masa kecil yang bahagia, tiga ibu muda ini bertekad mengumpulkan kembali produk-produk cemilan yang tergolong langka. Satu per satu dicatat, kemudian dicari hingga ke pinggiran daerah di Jawa.

“Kita merasakan hal yang menyenangkan di masa dulu. Kita coba mengembalikan masa kecil kita yang bahagia itu dengan mencari lagi mainan-mainan dan makanan zaman dulu. Apa yang masih tersisa dan menjadi sesuatu untuk nostalgia,” ujar Eby.

Konsep toko baba (toko khas Cina) banyak membawa inspirasi Cemal Cemil. Konsep kemasan blek kerupuk pada makanan, diadopsi dari toko baba. “Waktu zaman kecil sering di bawa ibu-ibu kita ke toko baba. Makanan ditaruh di toples kaca besar dengan tutup piring kaleng. Selesai belanja suka dikasih permen. Nah, permennya itu di taruh di blek kerupuk atau toples kaca yang ada bulatannya,” jelas Eby. Toples kaleng tersebut kemudian dimodifikasi dalam bentuk yang lebih kecil dan berwarna-warni.

Tujuan utama toko Cemal Cemil yakni ingin mengembalikan memori masa kecil. Dengan diaplikasikan ke dalam logo sederhana bergambar tiga wajah perempuan. Ketiga wajah tersebut merupakan wajah para pendiri Cemil Cemil saat masih kecil. Selain ditaruh dalam toples kaleng kecil, produk Cemal Cemil disajikan dalam plastik transparan yang dibungkus kecil dan ditempel label dari Cemal cemil.

Seiring berjalannya waktu, toko Cemal Cemil juga menyediakan mainan dan perkakas rumahtangga tempo dulu seperti bola bekel, congklak, gasing, monopoli, perahu perang, hingga gelas dan termos. Awalnya barang-barang ini merupakan hadiah untuk konsumen yang membeli dengan pesanan tertentu. Namun atas permintaan konsumen, akhirnya Cemal Cemil menjualnya sebagai barang dagangan.

Kehadiran cemilan masa kecil rupanya masih dirindukan masyarakat. Tidak sedikit orang tua memesan produk ini sebagai bingkisan ulang tahun anaknya. Hingga saat ini, produk Cemal Cemil telah tersebar di mal-mal di wilayah Jakarta hingga kota-kota lain di Indonesia.

Dalam waktu dekat, Cemal Cemil juga akan membuat sebuah buku yang membahas seputar mainan tradisional. Gagasan ini didapat atas keprihatin para pendiri Cemal Cemil terhadap anak-anak zaman sekarang yang kurang aktif bermain diluar ruang. Menurut Eby, mainan tradisional dapat merangsang kreativitas dan motorik anak. Buku tersebut diharapkan dapat menaikan kembali harkat mainan tradisional untuk anak-anak zaman sekarang.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Hiroshima, Ketika Saksi Mata Bercerita

Tanimoto adalah salah satu saksi mata dari 6 korban selamat yang diwawancarai oleh John Hersey, jurnalis asal Amerika Serikat. Hersey melakukan reportasenya yang dibukukan dalam Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan, yang memaparkan kesaksian 6 korban yang selamat tersebut. Sebanyak 100 ribu jiwa tewas atau sekarat, sedangkan 100 ribu orang mengalami luka-luka bakar hanya dalam hitungan detik. Pada saat itu populasi Hiroshima sebanyak 245 ribu jiwa.


+ lanjut
Pendekatan Budaya di Perang Jawa

Pangeran Diponegoro menerapkan taktik perang gerilya yang cenderung ofensif sehingga menyulitkan pasukan kolonial. Strategi perang Diponegoro, lanjut Saleh, menerapkan strategi atrisi atau strategi penggerogotan dan penjemuan. Starategi ini ada cara berperang dalam jangka panjang.


+ lanjut
UI Rayakan Festival Budaya Jepang 2014

GJUI sendiri merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Japanologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Himaja FIB UI). Acara ini untuk memperkenalkan  serta menjadi wadah untuk menyalurkan minat dan antusiasme masyarakat terhadap kebudayaan Jepang.


+ lanjut