SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

Perubahan Hudi Pada Jejak Man's Mind


Rasanya Hudi belum menemukan kebosanan ketika ia memilih eksplorasi tubuh, nude, dan gesture dalam berbagai pose perempuan kesukaannya. Ada yang duduk, tiduran, atau tegak dengan gestur meliuk. Semua bertambah istimewa dengan rona merah merekah yang menyelimuti seluruh permukaan kanvas. Sebutlah salah satu karyanya, Imagine #02 yang dilukis pada kanvas ukuran 160 x 130 cm. Sosok tubuh perempuan hadir di situ dengan ekspresi sedang terbaring pasrah yang amat eksotis.

Atau pada karya Pigure #05 ketika ia menciptakan imajinasi seorang lelaki dewasa dari keindahan tubuh. Lekukan itu layaknya manusia sungguhan yang sedang membiarkan ketelanjangan dirinya sebagai suguhan buat banyak orang. Tak kalah hebatnya karya berjudul Pigure #04. Bedanya dalam karya ini si pelukis ikut mengeskplorasi sisi wajah yang memberikan kesan tersendiri yang mendalam.

Ketiga karya hebat itu dibuat oleh Satu pelukis, Hudi Alfa perupa kelahiran Ngawi yang kesehariannya sering jadi ilustrator penerbit. Karya Hudi dapat disaksikan secara terbuka di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang mengambil tema Man's Mind Series Women in Red. Chandra Johan, seorang kritikus seni bilang, pada pameran kali ini Hudi lebih berani menerobos pakem realisme ketimbang sebelumnya.

Keberanian yang dimaksudkan Chandra adalah teknik lukis Hudi yang menggunakan palitan dengan paduan sapuan lebar seakan meleburkan ruang dan obyek dalam kesatuan elemen abstrak. "Ini menunjukkan perubahan Hudi dalam memperlakukan lukisan bahwa lukisan akhirnya sebuah struktur abstrak yang bisa membersitkan apa saja di dalamnya, entah itu figur atau benda lain," kata Chandra.

Hudi sendiri merasa terjajah oleh peralatan lukis yang digunakannya. Dulu ia masih menggunakan kuas dan pailit standar yang ada di toko lukis. Namun Hudi menemukan nafas baru justru ketika ia bereksperimen dengan sebuah kape semen milik tukang bangunan. Dengan alat itu ia dapat membantai semua lukisannya di kanvas lebar dengan amat leluasa. Cara seperti ini membantu Hudi agar mampu membangun struktur yang lebih sesuai dengan lukisan abstrak.

Kata Chandra, itulah mengapa lukisan Hudi mampu meredupkan kontroversi objektivikasi perempuan meskipun banyak dari karyanya yang mengambil sarana tubuh perempuan sebagai objek.

#hudialfa #senilukis