• Vicharius DJ

Desain yang Tak Pernah Lepas dari Sifat Politisnya


Apakah desain selalu bersifat politis ataukah ia dapat berdiri sendiri tanpa terintervensi apapun? Hipotesa kedua tentang desain yang dapat berdiri sendiri terdengar agak naif. Pemahaman itu mengingatkan publik pada gagasan kelompok manifesto kebudayaan atau Manikebu yang jadi lawan ideologis lembaga kebudayaan rakyat (Lekra).

Bagi Manikebu, seni tidak boleh melekat pada unsur apapun. Seni harus berdiri secara bebas tanpa intervensi produk sosial apalagi politis. Namun apakah desain seperti itu? Rasanya tidak. Itulah pesan yang ingin disampaikan dalam diskusi bertajuk Apakah Desain Politis? Oleh Profesor Friedrich von Borris dari Universitas Fine Arts Hamburg dan Hafiz Rancajale, pegiat seni di Jakarta.

Friedrich memaparkan tentang wawasan konsepnya atas desain sebagai sebuah praksis emansipatoris. Menurutnya praksis seperti ini membuat desain mampu membuat dirinya sebagai pengubah atau alat untuk memperbaiki dunia. Desain selalu bersifat politis karena ia merupakan bagian dari struktur relasi interpersonal.

“Karena ia tercipta dari norma-norma sosial, itulah mengapa desain memang sedari dulu adalah produk politis. Desain merupakan instrumen emansipasi dan poltik sendiri juga bagian dari proses desain sosial,” ujarnya di Goethe Institut Jakarta.

Sementara itu Hafiz Rancajale yang juga sepakat bahwa desain tak akan pernah lepas dari sifat politisnya mencoba menunjukan lebih dalam bagaimana desain politis di Indonesia. Hafiz menunjukkan beberapa foto yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Foto dan gambar penuh kritik, menggelikan, namun memiliki pesan besar di dalamnya.

Diskusi ini berlanjut dengan mengadakan tur kota yang akan memperjelas jawaban dari pertanyaan apakah desain politis. Tur ini berfokus pada tiga titik yang dipilih di Jakarta Pusat, menelusuri hubungan antara desain dan politik dalam ruang kota: Kampung Paseban, Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Monumen Nasional (Monas).

Senen pernah menjadi salah satu jantung Jakarta dengan denyut perdagangan yang tak pernah berhenti. Akhir dekade 1930-an, kawasan Senen dipenuhi mahasiswa, aktivis, pejuang bawah tanah, pemain sandiwara, pelukis, pemusik, pembuat puisi, dan penulis cerita, yang kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan "seniman Senen".

Belakangan aktivitas lainnya juga berkembang di daerah sekitarnya: pasar gelap, prostitusi, juga premanisme dan kriminalitas. Masa berganti dan Senen kini telah mengalami ‘peremajaan’ demi mendapatkan citra baru. Di Senen, kita juga akan mengunjungi Komunitas Budaya Paseban, ruang edukasi berbasis kesenian.

Monumen Nasional (Monas) adalah proyek mercusuar dari Soekarno untuk membuktikan kepada dunia tentang kedaulatan Indonesia. Lokasinya terletak di jantung kota dan dibandung sebagai ruang publik Jakarta. Sejak Monas mengalami tantangan seperti menjadi tempat kotor yang dipenuhi sampah dan kriminal, kini, kota ini sedang berusaha memulihkan wajahnya.

Di sini kita juga akan mengunjungi diorama Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditambahkan saat masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998).

Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah pusat kesenian yang dibangun dalam periode 1970 dengan tujuan mendorong lingkungan seni dan budaya Jakarta ke tingkat yang lebih tinggi. Komplek kesenian ini mencapai puncaknya pada awal 80-an ketika banyak seniman "Senen“ pindah dan berkarya di sana. Lokasinya juga menarik untuk dicermati: di antara Menteng, area pemukiman kaya dan Kalipasir, area perkampungan yang bertalian erat dengan penyebaran narkoba.

#desain

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon