SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

Pa’rasanganta, Seni dengan Pendekatan Budaya Lokal


Ingatan Daniel Suvyanto masih begitu kuat bila mengenang kembali kisah-kisah lama dari orangtuanya. Salah satu yang cukup kuat diingatnya adalah cerita mayat berjalan. Ya, agak mengerikan memang bila membayangkan kisah itu. Namun nyatanya, itulah yang diyakini Daniel dan orang Mamasa kebanyakan. Daniel lahir di Desa Kallan, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Mitologi mayat berjalan yang begitu kuat di memorinya ia wujudkan dalam goresan kuas di atas kanvas. Baginya, karya lukis itu sekaligus menjadi obat rindu akan kampung halaman para leluhurnya yang mungkin tak banyak lagi generasi muda tahu cerita itu. 

Karya Daniel kini terpampang di galeri Bentara Budaya Jakarta dalam pameran bertajuk, Sulawesi Pa’rasanganta, sebuah terminologi daerah yang berarti kampung halaman. Penyelenggara memang sengaja menyematkan tajuk itu sebagai interpretasi pameris yang berasal dari beragam genre lukisan namun tetap kuat memegang akar budaya asli mereka. Seperti karya lukis milik Daniel yang diminta langsung oleh penyelenggara tanpa seleksi untuk diikutkan dalam pameran. Karya Daniel dianggap terunik jika ditampilkan dalam sebuah pameran. “Ini juga kesempatan untuk meperkenalkan budaya Mamasa kepada orang-orang luar. Paling tidak jika melihat lukisan saya mereka bisah mengetahui bahwa Mamasa punya budaya yang cukup unik yang sagat bedah dengan daerah lain,” ungkap Daniel. 

Di Mamasa pada tempo dulu ada tradisi menjalankan mayat. Mayat dijalankan ketika ada orang Mamasa yang berada di luar meninggal kemudian mayatnya akan dibawa ke kampung halamannya. Namun karena kampung halamannya jauh, maka mayat itu dibuat berjalan hingga tiba di kampung asalnya. Kekuatan magic itu dilakukan oleh keluarga mayat. “Hal itu yang kemudian menginspirasi saya. Untuk melukis sebuah tradisi atau budaya masyarakat Mamasa yang saat ini bisa dikata punah ditelan zaman,” ujarnya. 

Selain karya milik Daniel terdapat pula 29 karya seniman Sulawesi yang ikut tampil. Syamsu Rizal, Walikota Makassar yang ikut hadir pada pembukaan pameran mengungkapkan rasa terima kasihnya pada seniman Sulawesi yang menunjukkan eksitensi dan tanggung jawab seni budaya daerah. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi hal sangat penting untuk solusi mengimbangi adanya kesenjangan sosial di masyarakat Sulawesi, khususnya kota Makassar. “Partisipasi masyarakat seperti apa yang dilakukan oleh rekan seniman sangat dibutuhkan untuk menyentuh jiwa dan meningkatkan kepekaan bagi sesama,” kata Syamsu. 

#Parasanganta #sulawesi