SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019


Festival Teater Jakarta (FTJ) kembali digelar tahun ini. Selama 18 hari sejak dibukanya pada 12 November kemarin, pecinta seni teater di Jakarta dan sekitarnya akan disuguhkan tontonan 17 pertunjukan yang manggung di Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Jakarta. Seperti biasa, FTJ akan menghadirkan performa kelompok teater yang berasal dari enam wilayah kotamadya dan kabupaten di seluruh wilayah DKI Jakarta. Bukan hanya itu, festival tahun ini turut mengundang kelompok teater asal Bandar Lampung: Teater Satu. Cukup istimewa untuk merayakan penyelenggaraan yang ke-47 sejak dimulai pertama kali tahun 1973. 

Kelompok Teater Satu sudah mulai pertunjukan mereka dengan lakon Kursi-Kursi pada pembukaan. Lalu yang terakhir adalah pementasan lakon Terdampar oleh kelompok teater Castra Mardika. Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang menginisiasi kegiatan ini mengambil tema besar Drama Penonton. Bagi DKJ persoalan seni pertunjukan teater bukan hanya soal artistik, naskah maupun pemanggungan semata. Adinda Lithvianti dari Komite Teater DKJ mengatakan, di gelaran Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019, secara khusus Komite Teater membongkar persoalan dapur penonton sebagai tema dark riset disertasi Dosen BINUS, Sri Bramantoro Abdinagoro. 

“Untuk tema 'Drama Penonton' kami tertarik dengan riset Pak Bram yang meriset penonton di TIM, Komunitas Salihara, dan Gedung Kesenian Jakarta. Kami cukup kaget dengan hasilnya dan ditemukan poin penting penonton teater adalah kalangan menengah yang menyukai seni teater dan pergi ke museum,” katanya. Ketika riset dari Bram diperdalam lagi oleh DKJ, lanjut Adinda, ada banyak hal menarik yang digali. “Kami ingin melihat motivasi, dorongan, kebutuhan, persepsi, dan perilaku penonton teater. Selama ini FTJ lebih fokus pada gagasan membongkar 'dapur pertunjukan' ketimbang 'dapur penonton,” kata Adinda. 

Festival teater tertua di Indonesia ini juga melakukan pembaharuan dengan menghadirkan juri dari masyarakat awam. Ada 5 juri yang dipercaya untuk menyeleksi, yakni Zen Hae, Gandung Bondowoso, Jajang C Noer, dan Malhamang Zamzam. “Tahun demi tahun sudah ada banyak kemajuan. Terutama keberanian untuk ambil juri yang tidak mainstream dan naskah yang beragam tahun ini,” tukasnya. Selain pertunjukan ada beragam kegiatan akan dihadirkan selama festival ini, antara lain pertunjukan, diskusi, dan pameran. Ada belasan pertunjukan grup teater; tiga diskusi: diskusi naskah, diskusi biografi penciptaan dan diskusi pameran; dan pameran 'Drama Penonton' yang dikurasi oleh Mayumi Haryoto, ilustrator-desainer terkenal Indonesia yang karyanya terinspirasi pada ukiyo-e, ilustrasi dan desain pertengahan abad ke-20 yang memadukan masa lalu dengan kepekaan modern. 

#festivalteaterjakarta