SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

Ruang yang Menyatukan Segala Ide dan Kemungkinan


Menjelang akhir tahun 2019 Bentara Budaya Jakarta kembali menyuguhkan pameran seni rupa. Kali ini adalah rombongan seniman muda asal Pulau Dewata, Bali yang menggelar pameran bersama dengan tajuk Ruang Kemungkinan. Ketujuh perupa itu di antaranya, Komang Trisno Adi Wirawan, Kadek Darma Negara, Ketut Agus Murdika, Made Kenak Dwi Adnyana, Putu Sastra Wibawa, Wayan Piki Suyersa, serta Tien Hong. Kurator Pameran, I Made Susanta Dwitanaya mengatakan tujuh perupa muda yang tampil dalam pameran ini, secara karakteristik visual memperlihatkan dua kecenderungan yakni abstrak dan abstraksi. “Kalau abstrak itu bersifat nir-alam saat realitas alam bukan merupakan tujuan namun lebih pada titik berangkat untuk menghadirkan eksplorasi pada wilayah yang lebih formalistik, sedangkan abstraksi lebih bersifat lir-alam,” kata Susanta. 

Secara visual karya yang ditampilkan oleh ketujuh perupa muda ini cukup beragam. Seperti Made Kenak Dwi Adnyana yang lebih cenderung ke abstraksi alam dengan masih menampilkan representasi objek alam meskipun dalam perwujudan yang seesensial mungkin. Dalam pameran ini Kenak menghadirkan seri karya yang didominasi oleh nuansa gelap untuk mempersoalkan cahaya. Ia seakan ingin mempersoalkan apa yang tampak sebagai akibat adanya cahaya. Kadek Darmanegara juga mengekplorasi tentang alam. Karyanya merupakan perjalanan dari abstraksi (lir-alam) menuju abstrak (nir-alam). Sementara Komang Trisno Adi Wirawan, menggali elemen-elemen alam dalam karya seni lukis abstraknya. “Persepsi-persepsinya tentang berbagai elemen alam seperti air, tanah, udara, cahaya, dan api ia hadirkan dalam pilihan-pilihan warna, garis maupun tekstur. Elemen-elemen alam tersebut secara abstraksi melainkan luluh dalam hamparan susunan susunan dan konstruksi elemen-elemen rupa itu sendiri,” katanya. 

Sementara itu Ketut Agus Murdika menghadirkan komposisi bidang-bidang dan warna yang dibangun dari sapuan sapuan kuas yang cenderung spontan. Sedangkan Tien Hong cenderung menggunakan nuansa warna warna komplementer yang cenderung lembut. Dan Wayan Piki Suyersa lebih cenderung menggunakan warna warna primer maupun sekunder dengan sapuan sapuan kuas yang tajam dan dinamis. “Kalau Putu Sastra Wibawa adalah perupa yang tertarik mengeksplorasi persoalan ekletik di dalam karyanya. Ia mencoba mempertemukan sesuatu yang terlihat s[pontan ekspresif dengan sesuatu yang tampak terkontrol,” tuturnya. 

Susanta menambahkan, dari keanekaragaman karya perupa ini, ada satu hal yang bisa dipakai sebagai kerangka untuk menautkan mereka. Yakni dalam proses mereka berkarya mereka selalu menyediakan ruang-ruang kemungkinan yang terjadi selama proses itu terjadi. Artinya, walaupun sebagian besar dari ketujuh orang perupa muda ini mengawali proses kreativitas mereka dengan berangkat dari gagasan tertentu, pada proses perwujudan atau penumbuhan gagasan tersebut dalam karya selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga dari gagasan awal mereka berangkat. Di tengah perjalanan proses berkarya itu mereka percaya dan memberikan ruang bagi bergerak dan dinamis dan mengalirnya proses hingga mereka berhenti pada satu keputusan untuk mengakhiri proses dan mengkalim karya mereka telah selesai. Pembukaan pameran ini digelar pada Kamis pekan lalu dan akan berlangsung hingga 21 Desember 2019.  

#bentarabudayajakarta