SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

40 Tahun Perjalanan Dolorosa Sinaga


Oleh Vicharius DJ

Seniman patung Dolorosa Sinaga dikenal sebagai pematung yang kerap kali menghadirkan figur perempuan dalam karya buatannya. Lebih dari 620 karya yang pernah lahir dari tangannya, hanya ada lima figur laki-laki sementara sisanya didominasi perempuan. Dolo, sapaannya, memang kental membawa isu-isu perempuan tiap kali mengeluarkan karya baru. Lisabona Rahman, dalam diskusi berjudul Dolo dan Para Lelakinya: Potret dalam Karya Dolorosa Sinaga mengatakan lelaki adalah figur yang jarang Dolo ciptakan sepanjang perjalanan keseniannya. ’’Lelaki menjadi figur anomali dalam karya-karya Dolo yang didominasi perempuan mempresentasikan isu-isu perempuan,” katanya. 

Menyitir Dolo, Lisabona menyebut seniman yang juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta itu tak pernah mampu menciptakan figur lelaki. Tiap mencoba menghadirkan laki-laki, selalu saja berakhir menjadi sosok perempuan lengkap dengan sanggulnya. Lisabona mencatat ada lima figur lelaki dalam karya Dolo. Mereka di antaranya adalah Soekarno, Multatuli, Wiji Thukul, Dalai Lama, dan Gus Dur. Ke lima figur-figur lelaki itu memiliki kesamaan yakni para pejuang yang tak pernah menyerah. Lalu, figur-figur itu juga memiliki kesamaan sebagai pejuang yang akhirnya terpinggirkan. Mereka sama-sama bukan pemenang. 

Dalam amatan Lisabona, proses penciptaan karya Dolo selalu menunjukkan tegangan antara pikiran dan tubuhnya sebagai seniman. Konsep dan ide dalam pikiran mengejawantah menjadi karya lewat kerja tubuh melalui tangan Dolo. Hingga kini Dolo memang selalu menggunakan tangannya untuk mencipta karya tiga dimensi tanpa pernah menggunakan teknik cetak yang lazim dilakukan oleh para seniman patung. Buku tersebut menandakan 40 tahun perjalanan Dolo di dunia seni. Sepanjang waktu itu pula, perempuan berdarah Batak tersebut tak hanya aktif sebagai seniman ulung namun juga pegiat di isu kearifan lokal dan masyarakat adat. Kedua topik itu turut menjadi pembicaraan hangat selama sepekan kemarin dan menjadi momentum pra peluncuran buku berjudul Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, dan Substansi. 

Pada diskusi Dolo dan Para Lelakinya, tulisan Lisabona Rahman tentang Dolo dan proses keseniannya menjadi pemantik yang direspons oleh sejumlah penanggap. Para penanggap itu adalah Seno Gumira Ajidarma, Sukmawati Soekarnoputri, Bonnie Triyana, Yori Antar, Abdon Nababan, dan Danial Indrakusuma. 

Diskusi yang mestinya membincangkan respons para penanggap terhadap karya Dolo dan tulisan Lisabona tersebut sayangnya justru terasa hambar. Para penanggap malah tidak membincangkan karya Dolo. Yang mereka bicarakan adalah sosok patung-patung itu. Hanya Seno Gumira yang sedikit menyentuh tema diskusi dengan menyebut untuk menghadirkan figur sebetulnya tidak berarti harus menghadirkan sosok itu dengan utuh. 

Peluncuran buku akan dilaksanakan pada akhir Januari 2020 bersamaan dengan pameran tunggalnya di Galeri Nasional, Jakarta. 

#dolorosasinaga