top of page
  • Vicharius DJ

Ambiguitas Utay yang Menantang Persepsi

Ruth Marbun atau biasa dikenal Utay menggelar pameran tunggal bertajuk Perangai di Artsphere Gallery, Jakarta. Utay menampilkan 50 lukisan dengan goresan ekspresif. Ia terinspirasi menggelar pameran ini setelah mengamati perilaku masyarakat urban dalam bereaksi ketika menghadapi berbagai fenomena.


Ragam perilaku manusia kota, kata Utay adalah pemandangan yang selalu menginspirasinya. Hal itu terutama dipengaruhi lewat perjumpaannya dengan berbagai karakter yang ditemui secara selintas, yang lalu mengendap dalam imaji atau alam bawah sadarnya. Adapun, karakter itu diambil lewat perjumpaannya dengan berbagai sosok seperti tukang pigura, tukang nasi goreng, pegawai kantor, dan kalangan akar rumput lain.


Seperti karya berjudul Teka-teki Tokoh (i)-(xi..) Ia tergantung dengan dominasi warna monokrom seperti halnya lukisan lain. Ia menyisipkan kalimat-kalimat nakal yang justru memberi perspektif baru dari karyanya. Narasi atau kata-kata yang kadang bertentangan, bahkan kerap saling melengkapi goresan visualnya itu memberi nuansa yang unik bagi pengunjung.

“Menurutku hal-hal kecil itu jarang mendapat tempat dalam karya seni. Kita selalu tertarik pada hal-hal besar, padahal semua itu dibangun dari cerita-cerita kecil yang hingga menjadi narasi besar,” katanya.


Alih-alih menghadirkan karya yang menggambarkan potret secara utuh Utay justru melukiskan sosok-sosok yang samar. Dalam seri Teka-teki Tokoh nomor xvii misalnya, sang seniman juga menghadirkan figur karakter lewat dominasi warna coklat dengan berbagai gestur. Tak lupa dia menyelipkan kalimat jenaka seperti; 'Merica takut hantu tapi tidak kecepatan waktu, dia gemar membeli sepatu'.


Sesuai judulnya, sang seniman seolah juga memberi ruang kamuflase saat dia bermain-main dengan unsur ambiguitas. Namun di sisi lain menantang persepsi pengunjung, bahwa ketika ada sesuatu yang dianggap lumrah, akan selalu ada anasir-anasir mengejutkan yang menyertainya saat diperhatikan dengan saksama.


Dalam pameran ini, Utay juga memainkan politik ruang pamer dengan penempatan karya-karyanya. Salah satunnya lewat dominasi lukisan cat air di atas kertas yang berukuran lebih besar dibandingkan cat akrilik di atas kanvas, yang di antaranya bahkan berukuran seperti batu bata dan ada pula yang memanjang serupa batangan kayu.

Dalam sejarah seni rupa modern, lukisan-lukisan kanvas memang cenderung mendapatkan perhatian lebih dibanding karya dengan medium kertas. Namun, Utay sepertinya tak ingin terjebak pada konstruksi tersebut, salah satunya dengan memberi porsi lebih dalam karya bermedium kertas.


Semangat yang sama juga dapat dilihat dari salah satu karyanya bertajuk Bata(s) i (2023). Lewat karya menggunakan medium acrylic and pastel on canvas berukuran 23 x 11 x 5 cm juga mencoba menantang pola konstruksi yang berlaku di kalangan seniman.


Lewat karya berukuran sebesar batu bata itu, Utay juga menghadirkan narasi kecil yang mungkin tidak disadari masyarakat. Yaitu lewat tulisan 'Naikkan Derajat Ikan Kembung' yang menjadi bentuk tanggapan sang seniman terhadap hasil riset pangan bahwa kandungan Omega 3 ikan ini lebih tinggi dari salmon.


Selain itu, dengan menggunakan medium yang kecil hal itu justru menantang batas limitasinya untuk bisa mencari kemungkinan estetik yang lebih beragam. Sebab, seniman yang juga desainer itu mengaku pola pengkaryaan seperti itulah yang bakal membuatnya lebih tertantang mengeksplorasi ruang.

“Keputusan-keputusan itu sebenarnya banyak dibuat secara tidak sadar. Aku juga sangat senang bermain dengan konstruksi lukisan karena ini merupakan salah satu caraku untuk mendekatkan diri dengan lukisan,” katanya.


Kurator pameran Gesyada Siregar mengungkap, karya-karya Utay memang menantang persepsi pengunjung. Menurutnya, menelusuri karya-karya Utay laiknya mengelilingi petak-petak permukiman, yang di tiap sisinya menampilkan berbagai perilaku manusia.


Salah satunya saat sang seniman menyadari tindakan-tindakan kalangan akar rumput sebagai sebuah perlawanan terhadap masalah besar yang terjadi di dunia. Ini terejawantah lewat tindakan mereka yang sekecil dan sesederhana apapun dalam menghadapi realitas.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page