• Vicharius DJ

Bebas Berkreasi di Creative Freedom to the Heal the Nation #2

Perpustakaan Nasioanal Republik Indonesia kembali mendukung penyelenggaraan pameran bertajuk Creative Freedom to The Heal the Nation #2. Pameran ini dibuka dari tanggal 15 Januari- 25 Februari 2022, di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas. Peran Perpusnas sebagai institusi perawat peradaban dapat dimaknai dengan menyediakan ruang bagi seniman dan masyarakat dalam mengekspresikan karya-karyanya.

Seni rupa sebagai elemen dari kebudayaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari nilai kearifan lokal dan kearifan alam. Seni rupa nusantara adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang dari seluruh daerah tercermin dari bahasa, budaya, dan keistimewaan alam eksotis dan wilayah yang mencakup Indonesia.


Pada pameran Creative Freedom To Heal The Nation #2, dari semua bentuk dan jenis seni rupa yang ada, terdapat beberapa diantaranya yang merupakan karya-karya dari beberapa seniman di Indonesia. 
Mereka memiliki beberapa tema dan gaya atau aliran dalam seni rupa. Nilai estetika yang terkandung di dalam pameran ini adalah membaca konstelasi seni rupa Indonesia dalam bingkai pameran ini.

Sebuah pameran seni rupa merupakan wujud dari pernyataan rasa batin yang dilatar belakangi satu pandangan idealisme dan prinsip yang dianut senimannya. Inovasi seni atas pengaruh perkembangan zaman dan teknologi memungkinkan para seniman untuk bereksperimentasi dari segi teknik dan bahan dalam menciptakan karya seni. Kecenderungan humanisme pada tema realisme selalu berdekatan dengan politik dan sejarah, latar belakang awalnya adalah ketika Raden Saleh Sjarif Boestaman adalah pionir seni rupa Indonesia.


Pameran Creative Freedom To Heal The Nation #2 adalah kelanjutan dari pameran satu tahun sebelumnya dimana Creative Freedom To Heal The Nation #1 adalah awal dari sebuah momentum budaya di saat pandemi di dunia dan Indonesia menjadi ruang kesadaran baru untuk disikapi dan memotivasi tumbuh kembangnya kreativitas seni yang menjadi kendala pertumbuhan kreatifitas yang tertunda.

Seni setelah new normal masih meninggalkan jejak kegelisahan, kehidupan sosial, politik, seni budaya, yang ditafsir ulang dan dibaca menjadi perbendaharaan visual yang tak terberi. Semangat itu tetap tumbuh, kita hidup berdampingan dengan virus yang mematikan yang telah meluluhlantakkan manusia, kehidupan pasca pandemi dan setelahnya dijadikan bahan ekspresi baru.


Di dalam pameran ini kita bisa melihat melalui karya cipta yang mewakili beberapa pemikiran membaca nusantara dan spirit humanisme. Mereka bekerja memperlihatkan kecenderungan budaya visual yang bisa didekatkan langsung kepada masyarakat sebagaimana memberikan sentuhan apresiasi seni yang sesungguhnya. Pameran ini telah menghantarkan perupa untuk berdialog langsung dan menjadikan jembatan terhubungnya seni dan masyarakatnya. Pameran ini diikuti oleh puluhan seniman baik dari Jakarta maupun dari berbagai daerah di luar Jakarta.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua