top of page
  • Vicharius DJ

Berani Bersuara dan Melawan Arus

Museum MACAN membuka pameran grup lintas disiplin se Asia-Pasifik hingga April 2024 mendatang. Terdapat 24 perupa yang berasal dari Australia, Bangladesh, India, Indonesia, Jepang, Singapura, Thailand, Vietnam, Lebanon, dan Afghanistan hadir bersama dengan mengusung tema, Voice Against Reason. Tema itu bagi mereka sebagai cara mempertanyakan dasar dari apa artinya bersuara atau berpendapat.


Karya yang ditampilkan merupakan hasil kurasi Putra Hidayatullah, tim kuratorial Museum MACAN. Asisten kuratorial Museum MACAN, Aditya Lingga mengatakan sebenarnya ada banyak nama yang masuk ke dalam tim kuratorial namun mengerucut menjadi 24 nama.

“Dalam pameran ini, kami mencari gagasan yang kita lihat dari karya mereka. Kami juga mencari yang menjadi isu tersendiri dan mengaitkan dengan Indonesia di masa sekarang, memang sangat beresonansi,” katanya.


Aditya Lingga menjelaskan salah satu karya seni yang ditampilkan merupakan ciptaan Natasha Tontey dari hasil risetnya tentang ritual adat Minahasa. Menurutnya masih berlaku atau ada yang berbeda dari ritual adat yang mempertanyakan apa sih institusi itu. Para seniman yang berpameran gagasan utamanya adalah menyuarakan sesuatu yang cenderung melawan arus atau konvensi yang ada.

“Sebagian besar mempertanyakan juga, dan hal ini yang keluar ke permukaan. Mempertanyakan apakah ada norma lain yang kita pikirkan, kalau ditanya benang merah, pertanyaan mereka sama-sama bertanya tentang gagasan Voice Against Reason,” kata Lingga.


Direktur Museum MACAN, Aaron Seeto menuturkan pameran grup Voice Against Reason menghadirkan para perupa terkemuka dari Asia. Eksibisi ini dimulai dari gagasan bahwa perupa membantu kita dalam menyuarakan dan memberikan bentuk pada isu-isu dan ide-ide yang terkadang bergolak di bawah permukaan atau berlawanan arus.


Menurutnya, di masa ini, ketika teknologi terkadang mendorong keseragaman, atau penulisan sejarah yang menyamarkan pengalaman individu dan pribadi yang berbeda, berbicara atau mengungkapkan pendapat adalah hal yang penting agar kita dapat melihat lingkungan sekitar dengan cara yang lebih kritis.

Selama lebih dari 12 bulan, pihaknya telah bekerja sama dengan para perupa dalam mengembangkan dan mengkomisi sejumlah karya baru yang akan dipamerkan bersamaan dengan karya-karya besar oleh para perupa dari seluruh regional Asia.


“Voice Against Reason digagas tidak hanya sebagai sebuah pameran, namun sebagai sebuah wadah keterlibatan yang dinamis antara perupa, karya, dan pengunjung, yang diaktivasi melalui wicara, kuliah umum, dan presentasi selama periode pameran berlangsung,” tukasnya.

Para seniman yang terlibat di antaranya adalah Bagus Pandega, Nadiah Bamadhaj, Chang En Man, Heman Chong, Griya Seni Hj Kustiyah, Edhi Sunarso, Hyphen-, Tom Nicholson with Ary "Jimged", Sendy, Aufa R. Triangga, Nasikin Ahmad, Emiria Soenassa, Galih Johar, Shilpa Gupta, I Ketut Muja, I Wayan Jana, Ika Arista, Jumaadi, Khadim Ali, Meiro Koizumi, Natasha Tontey, Tuan Andrew Nguyen, Mumtaz Khan Chopan, Ali Froghi, Hassan Ati, Rega Ayundya Putri, S. Sudjojono, Khaled Sabsabi, Kamruzzaman Shadhin, Sikarnt Skoolisariyaporn, Amin Taasha, dan The Shadow Factory.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page