• Vicharius DJ

Cerita Keluarga dalam Rumah Kenangan

Sepuluh tahun berlalu sejak Nancy alias Mutiara Wijaya, putri Raden Wijaya kabur dari rumah tanpa pamit pada bapaknya. Peristiwa itu membuat luka di hati Raden Wijaya. “10 tahun kamu pergi meninggalkan aku, selama itu pula kamu membenciku dan tidak mau memaafkan aku. Lebih sakit orang tua yang ditinggalkan anaknya tanpa pamit,” ucap Raden Wijaya Sastro kepada putrinya.


Tak ingin disalahkan begitu saja, Nancy membalas ucapan bapaknya. Dengan raut wajah marah, ia membeberkan luka lama yang dipendam selama 10 tahun. “Mana ada sahabat yang merebut suami sahabatnya sendiri, menceraikannya, lalu menikah lagi. Di rumah ini, aku merasakan kesedihan mendalam,” katanya.



Itulah sepenggal dialog menarik dari pertunjukan Rumah Kenangan yang sudah cukup menggambarkan adanya konflik keluarga. Cerita ini bermula saat Nancy (Happy Salma) memutuskan pulang bersama temannya Mona (Wulan Guritno). Ia terpaksa melakukan itu karena pandemi Covid-19 memaksanya untuk diam di rumah.


Latar rumah dengan ruang tamu terbuat dari kayu, ruang makan, dan kursi goyang tempat Raden Wijaya Sastro (Butet Kartaredjasa) menjadi pemandangan tunggal. Tuduhan menjadi seorang koruptor membuat kondisi psikisnya semakin jatuh. Sang istri, Amelia Wijaya (Ratna Riantiarno) terkejut dengan kedatangan seseorang dari gerbang pintu rumahnya, ada anak perempuan yang kabur selama 10 tahun dari rumah mereka dan kembali lagi.


Konflik di dalam Rumah Kenangan tak hanya terjadi antara seorang ayah dan anak perempuannya, tapi juga anak perempuan kepada ibu tiri, ayah tiri pada anak laki-lakinya, dan antar sesama saudara tiri.



Nancy sangat kesal dengan keberadaan Randy Wijaya (Reza Rahadian) yang bak seorang seniman. Randy kerap memegang gitar ke mana-mana dan sesumbar ingin menelurkan album dan menjadi seniman. Tapi intrik dalam pentas teater daring Rumah Kenangan juga dimeriahkan oleh bumbu-bumbu cinta antara Mona dan Randy Wijaya. Reza Rahadian juga unjuk gigi memetik gitar dan bernyanyi lagu berjudul Cinta Tak Sia-sia.


Tak seperti pertunjukan teater daring lainnya. Lakon Rumah Kenangan menggunakan format baru yakni virtual dengan memindahkan peristiwa panggung ke dalam media atau video namun bukan hasil rekaman atau dokumenter.


Sutradara Agus Noor dan tim pementasan Rumah Kenangan menyadari membuat teater yang menarik untuk ditonton via gawai atau laptop tidak bisa konvensional seperti biasanya. Menurutnya, gambar harus tetap bagus secara visual tanpa mengorbankan panggung. “Tapi ini bukan sinema tapi tetap teater atau peristiwa panggung yang metode ceritanya one set, semua peristiwa terjadi di satu set yaitu rumah,” lanjutnya.



Agus Noor dan tim juga sengaja tidak melakukan proses editing sound maupun video. Ia sengaja membiarkan para pemain yang main merasakan emosi serta salah dialog seperti di atas panggung.

Contohnya, ketika Reza Rahadian menyanyi menggunakan gitar. Agus Noor membiarkan tanpa editing selama scene tersebut dan tidak ada sound agar suara lebih jernih.


“Hal ini yang jadi tantangan, gimana menerjemahkan peristiwa panggung menjadi tayangan multimedia menarik, yang enak ditonton dan lain-lain. Saya sangat berdiskusi gimana peristiwa panggung tetap terasa, tidak hanya mewakili pandangan dengan kamera,” tukasnya.

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon