• Vicharius DJ

Dinamika Sosial Politik dalam Karya Agus Suwage

Museum MACAN mempersembahkan pameran tunggal seniman asal Yogyakarta, Agus Suwage bertajuk The Theater of Me. Dalam pameran yang dibuka sejak 4 Juni lalu itu, Agus Suwage menampilkan lebih dari 80 karya seni dalam berbagai bentuk seperti instalasi, patung, lukisan, dan gambar.


Sebagian besar dari karya itu menyentil kehidupan sosial politik yang terjadi di Indonesia, terutama peristiwa kerusuhan Mei 1998. Tragedi itu seakan menjadi pengalaman penting dalam perkembangan karirnya sebagai perupa. Menurut Direktur Museum MACAN, Aaron Seeto, itulah yang menjadi alasan dipilihnya Agus Suwage sebagai pameran retrospketif karena pengaruhnya di dunia seni Tanah Air.


“Pengaruhnya sebagai seorang perupa dapat terlihat dalam keterampilan teknis dan kemampuan melukisnya, serta bagaimana ia dapat menyampaikan harapan dan ketakutan dari generasi yang terseret arus momentum perubahan politik dan sosial menjelang Reformasi,” kata Aaron.


Aaron menambahkan bahwa pameran tunggal Agus Suwage adalah upaya penting Museum MACAN untuk memastikan bahwa perupa terkemuka Indonesia memiliki kesempatan memamerkan karyanya pada masyarakat umum. Pihaknya memang menggunakan pendidikan seni dan program publik yang beragam sebagai pendekatan yang dirancang agar perupa penting seperti Agus Suwage dapat dikenal oleh generasi muda.

“Supaya kita dapat lebih menghargai peran seni dalam membentuk pemahaman kita terhadap sejarah dan masyarakat,” ujar Aaron yang sekaligus menjadi kurator dalam pameran ini.


Agus Suwage lahir di Purworejo, Yogyakarta, pada 1959. Ia mempelajari seni lukis secara otodidak saat mengenyam pendidikan desain grafis di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hingga 1999 saat Orde Baru tumbang dan berganti Reformasi, Agus Suwage tinggal di Jakarta. Pameran The Theater of Me ini sempat ia siapkan sejak dua tahun lalu namun tertunda lantaran pandemik Covid-19.

“Sejak awal ditawari oleh Museum MACAN, saya fokus pada pameran tunggal The Theater of Me dan menyiapkan karya-karya yang ada di studio pribadi. Ada yang perlu diperbaiki sampai dibuat ulang, ada juga yang harus dipoles. Sepanjang dua tahun, saya hanya ikut tiga pameran karena fokus di eksibisi ini,” katanya.


Pameran ini menampilkan sejumlah karya penting bersejarah yang dibuat pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an di Jakarta yang mengalami perubahan politik dan sosial secara besar-besaran. Ada seri potret diri atau self portrait yang menjadi rekaman sejarah pencapaiannya sebagai seorang pelukis. Serta karya-karya instalasi penting yang jarang dipamerkan untuk publik umum. Pameran tunggal Agus Suwage berlangsung hingga 15 Oktober 2022 di Museum MACAN, Jakarta Barat.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua