top of page
  • Vicharius DJ

Duo Perupa dalam Tampilan Ziggurat dan Sadar

Galeri ROH Project di Jakarta mengadakan program dwi pameran tunggal. Salah satu seniman yang tampil adalah Nadya Jiwa dalam pameran bertajuk Sadar. Dalam pameran ini, Jiwa menampilkan sensibilitasnya sebagai seorang perempuan, seorang suku Sunda, dan seorang seniman yang tumbuh di era digital.


Alia Swastika, dalam esainya, menyebut bahwa Sadar mengungkapkan proses kompleks kesadaran dan persepsi realitas. Jiwa menggabungkan narasi sehari-hari dan referensi budaya pop, dari buku cerita masa kecil hingga film dan lagu, menciptakan karya yang kaya akan konteks visual dan emosional. Beberapa karyanya terinspirasi dari serial televisi terkenal, sementara yang lain menggali mitos dan cerita leluhur, seperti Cipamali dan Dayang Sumbi.

Nadya Jiwa menghadirkan sebuah kesempatan untuk kita merenungkan subjektivitas dalam seni. Karya-karyanya mengajak pengunjung untuk melihat ke dalam diri sendiri dan menghubungkan pengalaman personal dengan narasi yang lebih luas. Swastika menggambarkan karya Jiwa sebagai ruang di mana hal-hal yang asing dan tak terlihat dapat ditemukan, mengundang kita untuk menghadapi emosi dan dunia internal yang sering kali diabaikan.


Sementara seniman lain yang tampil adalah Agus Suwage dengan tajuk pameran Ziggurat. Ia kembali menggabungkan elemen sindiran, ilustrasi kekerasan, dan apresiasi untuk berbicara tentang perspektifnya sendiri. Utamanya pada pengamatannya yang cerdik soal keadaan masyarakat sekitar.

Ketika memasuki Galeri Orange, satu instalasi gigantik dari Agus langsung memantik sorotan. Berjudul Monumen Ego, instalasi patung monolitik itu tersusun dengan megah, tingginya mencapai 5,5 meter. Agus membangun Monumen Ego dengan konstruksi struktur persegi panjang berbahan panel seng, bahan yang juga sudah sering muncul di karya-karyanya sebelumnya.


Instalasi ini dibangun melebar di bagian bawahnya dan makin mengerucut di bagian atas. Karya-karya Agus memang kerap merujuk pada sejarah seni, filsafat, agama, musik, dan politik. Sang perupa dalam Monumen Ego pun kembali mengais amatan-amatannya tersebut pada topik-topik kesukaannya.

Itu pula yang kemudian nama pameran tunggalnya disebut Ziggurat. Ziggurat berasal dari kata zagaru yang berarti bangunan tinggi, seperti gunung, yang adalah menara bertingkat dengan bagian puncaknya semakin mengecil, mirip piramida berundak.


Founder ROH Jun Tirtadji mengatakan Agus Suwage adalah seniman yang kerap kali bekerja melalui berbagai media untuk menyelidiki banyak gagasan tentang identitas secara unik. Itu pun kini terjadi di pameran ini. Ziggurat dan Sadar dibuka untuk undangan khusus pada 18 Mei 2024, dan akan dibuka untuk umum mulai 22 Mei hingga 23 Juni 2024. Galeri ini tutup setiap Senin, Selasa, dan hari libur nasional.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Commentaires


bottom of page