• Vicharius DJ

E-rasmus Huis, Program Hiburan di Tengah Pandemi

Erasmus Huis, pusat budaya Indonesia-Belanda, baru-baru ini meluncurkan program daring terbarunya, e-rasmus huis. Lembaga kebudayaan Belanda ini banyak menunda kegiatan seni dan pertunjukan yang biasa rutin digelar karena pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung. Sebagai penggantinya mereka memilih untuk beralih ke platform digital.


Program e-rasmus huis akan menawarkan acara yang berkaitan dengan seni dan budaya, seperti konser musik, pemutaran film dan seni pertunjukan. Bertindak sebagai media bagi kreatif untuk mengekspresikan diri, Erasmus Huis berharap untuk lebih terlibat dengan para pendengarnya.



Direktur Erasmus Huis, Yolande Melsert mengatakan dalam masa-masa yang membingungkan ini, kita melihat insan kreatif; musisi, penari, pemain, band, desainer - mengambil inisiatif dan menemukan solusi kreatif untuk berhubungan dengan situasi COVID-19.

Alih-alih 'akan tayang' mereka sekarang menjangkau audiens dan penggemar mereka secara online untuk mengekspresikan diri. Selama 50 tahun Erasmus Huis telah memberi ruang bagi materi iklan ini. Seniman Belanda bertemu dan bekerja sama dengan rekan-rekan mereka dari Indonesia. ”Kami ingin memberi mereka platform di masa-masa aneh ini dan menciptakan e-rasmus huis,” kata direktur Erasmus Huis Yolande Melsert.


Salah satu acara yang akan berlangsung adalah Dutch Film 2020 Family Film Festival, di mana film Belanda akan diputar setiap bulan sepanjang Juli hingga Desember. Ditayangkan dengan terjemahan bahasa Indonesia, film-film ini akan dapat diakses dan dapat dinikmati oleh seluruh keluarga.



Selain itu ada penampilan grup musik DeWolff yang memiliki ciri khas sendiri tidak seperti grup band singular lainnya. Keeksentrikan dan kecakapan memainkan pertunjukan mereka membuktikan bakat luar biasa. Mereka sudah merilis sejumlah album studio dan memenangkan Edison Award 2019 dalam kategori rock.


Erasmus Huis terakhir kali menjadi tuan rumah DeWolff pada 9 Maret 2019, sebuah acara sukses yang sangat diterima oleh banyak pengagum Indonesia mereka. Membuktikan popularitas mereka, mereka juga mengadakan konser di Yogyakarta dan Malang,


Agustus akan menyaksikan kolaborasi langsung antara band Belanda Ciao Lucifer dan duo elektronik Indonesia Bottlesmoker.


Yang pertama adalah duo kekuatan pop lo-fi, dicirikan sebagai Unknown Mortal Orchestra yang meliput The Beatles, di pernikahan The Kills. Setelah merilis musik yang kompleks dan eksperimental, Ciao Lucifer telah kembali ke suara-suara telanjang karya sebelumnya, hanya berpusat di sekitar gitar, drum dan vokal.



Ciao Lucifer sebelumnya tampil di Erasmus Huis setahun yang lalu, serta Yogyakarta dan Solo, di mana mereka berkolaborasi dengan Bottlesmoker dan menyusun komposisi yang unik.


Program e-rasmus huis tidak dapat disangkal merupakan sumber hiburan yang pas bagi mereka yang ingin mencoba sesuatu yang baru, dan menjelajahi kekayaan budaya Belanda dari kenyamanan rumah mereka sendiri.

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon