top of page
  • Vicharius DJ

Eksplorasi Karet pada Sentuhan Tangan Sebelas Seniman

Seniman Agus Suwage meramaikan pameran kolektif Beyond Elasticity: Rubber and Materiality lewat karyanya berjudul Jejak Getah. Lukisan ini, tampak ledang menampilkan dua penyadap karet perempuan, dengan dua siluet putih yang sebangun, seperti 'hantu' dari masa lalu.


Sementara itu, potongan karet membentuk angka tahun seolah menjadi penanda awal penanaman karet di Indonesia, sejak kali pertama pohon Hevea brasiliensis itu ditanam di Kebun Raya Bogor pada abad ke-17. Karya ini sepintas menampilkan kekuatan naratif yang dibangun dari dua komponen utama, yaitu lukisan dan potongan karet yang menunjuk angka tahun pada 1864-2024.

Seperti tajuknya, pameran ini mengeksplorasi material karet sebagai basis karya seni. Selain Agus Suwage, terdapat sebelas seniman yang terlibat di pameran. Mereka adalah Anusapati, Catur Nugroho, Dolorosa Sinaga, Elyezer, Handiwirman, Iwan Yusuf, Maharani Mancanegara, Septian Harriyoga, Suvi Wahyudianto, dan Yuli Prayitno.


Eksebisi ini merupakan hasil residensi belasan seniman tersebut ke daerah Tulang Bawang Barat di Lampung untuk berkarya menggunakan karet alam (lateks cair dan lembaran karet) serta kemungkinannya untuk dipadu dengan material lain.

Seniman Catur Nugroho juga hadir lewat karya berjudul Sajak-sajak Petani Karet. Alih-alih menggunakan kanvas sebagai media lukis, sang seniman justru menggunakan cairan lateks sebagai material karya dan mencetak karya fotografi di atasnya. Karya ini mengambil potret-potret perkebunan yang terlantar atau beralih fungsi menjadi kebun singkong.

Kendati begitu, dia juga menambahkan pindaian pohon karet yang sebenarnya tidak ada, untuk ditampilkan dalam lanskap perkebunan. Catur juga menuliskan beberapa puisi pilu yang mengisahkan kehidupan petani karet di sana. “Karya ini dibuat kurang lebih seminggu dengan eksperimen yang sebelumnya juga banyak yang gagal. Ada juga tiga karya yang prosesnya saya buat di kamar gelap sehingga menimbulkan kesan seperti citra fotografi analog,” katanya.


Kurator Asmudjo Irianto mengatakan, karya-karya dalam pameran ini memang ingin menunjukkan bagaimana keberadaan karet dapat menjadi kekuatan bentuk, konten dan konteks. Penggunaan karet alam sebagai material diharapkan juga akan menyentuh perbincangan mengenai rematerialisasi dan medium di era pos-medium dalam seni rupa kontemporer.

Dia menjelaskan, konteks juga menjadi bagian penting dari karya-karya yang dipamerkan, dan berkaitan dengan konten, yang menjadi refleksi kritis dari implikasi sejarah, sosial, politik dan ekonomi keberadaan karet sebagai komoditas perkebunan di Indonesia. Sayangnya, ekosistem pasar yang ada di dalam pembentukan industri ini tidak pernah memihak pada para petani. Pameran kolektif ini masih bisa Anda saksikan hingga akhir Juni mendatang. 

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page