top of page
  • Vicharius DJ

Indonesia di Atas Canvas dan Rembesan Cat Air

Bagi seniman Indonesia memang surganya inspirasi, termasuk mereka yang bergelut dalam dunia seni rupa cat air. Galeri Indonesia melalui pameran bertajuk “Wonderful Indonesia” mengajak publik untuk menyaksikan hasil eksplorasi para pelukis cat air tentang keindahan alam Indonesia yang diinisiasi International Watercolor Society (IWS).

 

Dalam pameran itu terdapat 176 seniman dari 31 negara di dunia yang bergabung menyajikan beragam karya, baik yang figuratif ataupun nonfiguratif. Menurut Efix Mulyadi yang menjadi kurator dalam pameran itu, seluruh karya tersebut merupakan hasil seleksi dari International Watercolor Competition yang sudah diadakan pada Juni hingga September lalu.

 

Para seniman lokal dan luar negeri memang ditantang untuk merespon keindahan Indonesia dengan kanvas mereka. Beberapa hal yang bisa disimak misalnya, situs-situs arkaik seperti Candi Borobudur, Tanah Lot, Wayang Kulit, fauna khas Indonesia, hingga ritual upacara Ngaben yang dilakukan oleh masyarakat adat di Bali.

 

“Apa yang bisa dibayangkan tentang Indonesia itu lalu direfleksikan di karya-karya yang dipamerkan di sini. Salah satunya lewat lukisan dengan mengambil objek-objek yang cuma ada di tanah air,” papar Efix.

 

Menggelar pameran lukisan cat air memiliki tantangan sebab sudah banyak pameran sejenis yang diselenggarakan. Para seniman ditantang untuk mengeksplorasi berbagai hal yang belum diambil sebagai ide atau inspirasi pengkaryaan. Contohnya melalui karya “Memories of Bali” karya Lew Min Seong dari Malaysia. Sang seniman menyodorkan persepsi khas seseorang di dalam menghadapi realitas dengan membagi kanvas menjadi susunan bidang-bidang vertikal. 

 

Atau karya “Mastery” milik Luan Quach dari Kanada. Lewat karya lukisannya terus memantik pertanyaan atas siapa yang menguasai siapa di dalam relasi antara manusia dan alam yang diwakili oleh sosok komodo.

 

Bukan hanya dari mancanegara, karya seniman lokal juga tak kalah menarik. Seperti karya “The Batik Maestro” milik Yukiko PH yang menemukan sudut pandang memikat, atau “Morning in Ubud” dari Tinna Widianti dengan permainan cahaya matahari pagi dengan suasana khas sawah terasering nya.

 

Ada juga “Topeng Panji” garapan garapan Widyarto Gunawan yang mendemonstrasikan komposisi yang elok dengan permainan warna yang khas.  Di sini pengunjung akan disuguhi bahwa lukisan cat air memang memiliki kekhasannya sendiri dengan apa yang disebut ‘blobor’ atau cat yang merembes.

 

Karya yang mencuri perhatian ialah milik Agus Budiyanto, perupa sekaligus pendiri IWS membuat instalasi karya seni dengan menggabungkan cat air, dan dacron. Lewat karya  bertajuk “Melayang” itu  sang pelukis  seolah menampilkan keindahan alam dari atas ketinggian. Karya itu ungkap Agus terinspirasi saat dia bepergian dengan menaiki pesawat.

 

Menurut Agus para pelukis cat air di Indonesia harus berani keluar untuk mendobrak pakem-pakem konvensional agar semakin memperkaya khasanah seni di tanah air. Peluang seniman water color untuk masuk ke seni kontemporer juga terbuka luas. “Water color itu bisa keluar dari konvensinya dan punya peluang besar di ranah kontemporer, catatanya ya pelukisnya itu harus berani menerobos di luar kebiasaan,” papar Agus.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Kommentare


bottom of page