• Vicharius DJ

Kemilau Wastra Tiga Primadona Nusantara

Dalam rangka memperingati hari jadi ke-46Museum Tekstil dan Hari Kemerdekaan RI ke-77, sebanyak 138 kain tenun dari Sumatera, Sulawesi, dan Timor dipamerkan di Museum Tekstil bertajuk Nuansa Kemilau Wastra Tenun Indonesia: Sumatera, Sulawesi, dan Timor. Sebagian kain tenun itu merupakan wastra langka yang sudah tidak diproduksi lagi.

 

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Sri Kusumawati mengatakan, wastra yang dipamerkan merupakan koleksi dari Museum Tekstil, Rumah Wastra Jo Seda, dan sumbangan kolektor almarhum Biranul Anas yang juga Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung periode 2006-2010.

 



Menurutnya, tradisi tenun pada wastra memang ada di hampir semua provinsi. Sebelumnya, Museum Tekstil pernah menampilkan kain tenun dari provinsi-provinsi lain. “Kali ini kami mau angkat tenun dari Sumatera, Sulawesi, dan Timor karena kain tenun di sana cukup menonjol,” tutur Sri.

 

Kain-kain yang dipamerkan berasal dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Salah satu wastra yang menjadi sorotan adalah kain tenun dari Lampung karena sudah tidak diproduksi lagi. Sri mengatakan, kain langka dari Lampung itu ditenun dengan teknik yang rumit, sementara teknik tenun di zaman sekarang lebih praktis dan modern. Itu sebabnya tidak ada lagi yang memproduksi kain tenun tersebut.

 



Wastra lain yang dipamerkan adalah selendang limar songket. Kain yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, ini dibuat dari sutra dan benang emas. Ragam hias pada limar songket adalah flora. Pada selendang ini, rangkaian flora dibuat menyerupai sawat pada batik klasik dari keraton di Jawa Tengah.

 

Ada juga pilu salufwastra dari Molo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Pilu saluf merupakan hiasan kepala yang digunakan meo atau prajurit yang telah terbukti kepahlawanannya. Pilu saluf menunjukkan penghormatan kepada meo. Wastra ini dibuat dari kapas, benang, dan manik-manik yang dibuat dengan teknik tapestri bercelah.

 

Jika berkunjung ke sana, Anda dapat menjumpai koffo, wastra dari Sulawesi Utara. Koffo dibuat dari serat pisang liar yang dulu banyak tumbuh di sana. Masyarakat mengenal wastra itu dengan nama berbeda. Orang Sangir menyebutnya koffo, sementara orang Talaud menyebut itu hote. Wastra ini umumnya digunakan sebagai pakaian, pembatas ruangan, dan ikat kepala.

 



Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, tenun merupakan tradisi kuno Indonesia sejak ribuan tahun lalu yang bisa dijumpai di berbagai daerah. Tenun begitu beragam karena masing-masing daerah membuatnya sesuai dengan adat istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat.

 

”Ekspresi yang tertuang dalam setiap lembar wastra ini adalah wujud tanda cinta dan kesetiaan kepada Tanah Air,” katanya. Pameran ini dapat dikunjungi publik setiap hari kecuali Senin mulai 20 Juli hingga 31 Agustus 2022. 

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua