• Vicharius DJ

Kombinasi Seni Lirisisme dan Parket Kayu

Perupa senior Syakieb Sungkar menampilkan sebuah lukisan dengan elemen modern art yang padat, lirisisme abstrak. Pada sebuah karya bertajuk “Red Christmas” Syakieb mengambil serpihan-serpihan karakter Gerald Pieter Adolfs, Ahmad Sadali, Umi Dahlan, Mark Rothko dan Antoni Tapies untuk disusun kembali menjadi imaji yang baru. Sangat unik sebab sebuah jukstaposisi dari gunungan Sadali yang biasanya memberi nafas Islami, kali ini dibuatnya menjadi pohon Natal dengan background berwarna merah. Hal itu mengingatkan kita pada gradasi warna Mark Rothko.


Pada bagian bawah ‘pohon Natal’ ada hadiah-hadiah yang berwarna coklat dengan ‘ikatan tali’ yang biasanya menjadi simbolisasi tanda silang yang sering terdapat pada karya-karya Antoni Tapies. Tak lupa ia menaburkan prada di sana-sini agar nafas Umi Dahlan terasa pada karyanya. Karya ini diciptakan dengan sengaja oleh Syakieb Sungkar, khusus untuk pameran bertajuk “Art Kembang Kayu” di Teka Real Wood Flooring Gallery, Alam Sutera.

Selain Syakieb, terdapat sembilan perupa lain yang ikut ambil bagian. Mereka adalah Amrus Natalsya, KP Hardi Danuwijoyo, Nisan Kristiyanto, Erman Sadin, Sarnadi Adam, Indyra, Sukriyal Sadin, Chryshnanda Dwilaksana dan Revoluta S. Art Kembang Kayu merupakan kolaborasi seni lukis dengan interior cantic lantai kayu dari salah satu brand terkemuka lantai kayu di Indonesia, Teka dari PT Tanjung Kreasi Parquet Industry (TKPI).


Kurator Art Kembang Kayu, Anna Sungkar mengatakan pameran lukisan ini bisa dibilang sebagai pertemuan dua generasi. Sebagian besar dari 10 pelukis yang memamerkan karyanya tersebut lahir pada tahun 1950-an, seperti KP Hardi Danuwijoyo (1951), Nisan Kristiyanto (1953), Erman Sadin (1953), Sarnadi Adam (1956), Indyra (1957), dan yang paling senior dalam pameran ini adalah Amrus Natalsya yang lahir pada tahun 1933.

Sementara sisanya lahir pada tahun 1960-an, yakni Sukriyal Sadin (1961), Syakieb Sungkar (1962), Chryshnanda Dwilaksana (1967), dan yang termuda adalah Revoluta S (1975). “Di masa lalu, senirupa modern dan kontemporer jelas benar bedanya, dari segi gaya dan ide. Namun di masa sekarang, kita saat ini tidak melihat lagi perbedaan signifikan di antara keduanya,” jelas Anna.


Dalam kanvas-kanvas pelukis senior Indonesia tahun 1970-an, bentuk-bentuk yang cenderung ke abstrak atau semi abstrak kelihatan dominan. Anna menyebutkan kecenderungan ini sebagai lirisisme, yang tumbuh subur seiring dengan berkembangnya pembangunan properti di perkotaan, sehingga lukisan-lukisan dibutuhkan sebagai penghias dekorasi dari properti yang baru terbangun.

Keberagaman pilihan juga diperhatikan dalam pameran ini dan disesuaikan dengan luasnya selera pemirsa yang semakin hari semakin maju daya apresiasi seninya. Namun pada akhirnya karya-karya lukis yang dipamerkan akan terasa cocok dengan keunikan permukaan kayu yang terdapat pada parket dan dinding kayu olahan di galeri Teka, Alam Sutera. Karena itulah, pameran ini kemudian dinamakan Art Kembang Kayu.



Karya-karya perupa yang hadir dalam pameran Art Kembang Kayu ini mewakili DNA atau jati diri pelukisnya masing-masing. Peranan kurator Anna Sungkar memperjelas jejak DNA masing- masing. Maka pameran ini menjadi sarana yang saling melengkapi dengan penggunaan medium kemajuan teknologi.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua