• Vicharius DJ

Kontemplasi Lewat Visual Kecoa yang Futuristik

Bagaimana apabila isu lingkungan diangkat ke dalam seni rupa digital melalui sudut pandang sekelompok kecoa? Inilah yang ditawarkan Natasha Tontey dalam pameran visual daring di gelaran pameran seni media berkala dalam jaringan, Universal Iteration. Sejak 12 Juni lalu hingga 3 Juli mendatang giliran karya visual Natasha berjudul Pest to Power (Hama Memberkati) yang dapat disaksikan.

Natasha menghadirkan kecoa-kecoa yang beraktivitas sebagai representasi manusia yang menganggap diri sebagai pusat. Tak hanya diajak berkontemplasi, kita juga bisa menikmati suasana surreal sekaligus futuristik! Dalam proyek ini, sepertinya ia melihat kemungkinan unlearning evolusi manusia untuk masa depan manufaktur dengan memperoleh pengetahuan melalui kecoa. Apa yang dianggap sebagai hama mungkin menjadi kunci untuk memimpin masa depan yang berkelanjutan.



Dipinggirkan selama ribuan tahun sebagai makhluk pembawa penyakit dan diperlakukan sebagai spesies yang ditakuti oleh manusia, kecoa menjadi satu-satunya spesies tunggal yang dapat bertahan dari banyak peristiwa kepunahan dan transformasi zaman.

Menurut Natasha, penilaian terhadap kecoa dibangun oleh gagasan semiokapitalisme/biopolitik yang hipersterilisasi tentang 'gaya hidup yang tepat' di mana kelebihan produksi komoditas sintetis dan ketidakterikatan manusia terhadap limbah menghasilkan kecoa sebagai makhluk periferal di luar cungkup manusia. Ketika semuanya harus terkait dengan aktivitas manusia, kecoak kotor bukanlah bagian dari alam. Ide manusia untuk membedakan alam dan budaya menganut paham spesies kecoa.



Proyek seni ini adalah pencarian ilmiah-fiksi ke dalam perilaku aneh kecoa yang dibentuk sebagai kumpulan bahan nokturnal, layak huni, homeopati, dan banyak akal untuk mengeksplorasi gagasan futurisme ekosentris—yang berarti manusia bukanlah pusat dari segala sesuatu. Gestur artistik dari karya seni ini adalah menghadirkan kumpulan teks dan gambar dalam bentuk buku yang diterbitkan untuk timbal balik antar spesies antara manusia dan kecoa.


Publikasi ini akan mengeksplorasi potensi pengembangan masa depan yang melibatkan kecoa sebagai sumber bahan. Selain itu, video yang menampilkan visualitas penelitian juga akan dipasang sebagai bagian dari instalasi. Instalasi dan pertunjukan menggunakan mode representasi dan ekspresi dari gambar yang dibenamkan untuk interaksi dan respons yang kompleks dan rapuh antara manusia dan kecoa.



Apa yang kita, manusia, dapat pelajari dari kecoa? Kecoa apa yang bisa dipelajari dari manusia? Apa metode timbal balik untuk agensi manusia dan bukan manusia? Bisakah praktik artistik mengatasi masalah ini? Seperti yang dinyatakan oleh manifesto Xenofeminisme, masa depan bukan hanya untuk Anak, tetapi juga ruang bagi makhluk bukan manusia. Ketika kita mulai berpikir kurang antroposentris, kita berpikir lebih ekologis. Masa depan adalah kecoa.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua