SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Vicharius DJ

Kontemplasi Pemandangan dari Sang Maestro Srihadi

Lukisan bentang alam  karya maestro lukis Prof. Kanjeng Pangeran Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo dipamerkan di pameran tunggal bertajuk Srihadi Soedarsono— Man x Universe di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pembukaan pameran berlangsung sejak 11 Maret lalu. Lewat karyanya, Srihadi mengajak berkomplasi dan mendekatkan diri pada yang maha kuasa.


Jika diperhatikan dengan seksama pameran Man x Universe menginterpretasikan keindahan landscape Indonesia sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa. Sebab landscape dalam perspektif Srihadi adalah tema yang lebih dalam dari sekadar lukisan pemandangan yang menghipnotis orang asing untuk datang berkunjung.



Kurator Rikrik Kusmara menyebut pameran ini sebagai pendekatan baru Srihadi dalam mengekspresikan pemandangan karena ia menampilkan metafora dan simbol yang cukup kompleks. Proses artistik tersebut tak lepas dari kondisi sosial politik Indonesia yang tensinya naik sepanjang 2016–2019, tahun-tahun Srihadi menghasilkan karya untuk pameran ini.


Srihadi melukis pemandangan layaknya mencatat kejadian-kejadian, merekam perubahan-perubahan sampai hari ini. Seperti tertuang dalam karya  Horizon – The Golden Harvest (2018) yang memampangkan pemandangan panen padi era 1970-an. Penduduk desa bergotong royong, bergantian memanen padi. Sawah luas itu berbatas bukit landai di cakrawala.


Di sisi lain, karya itu mengingatkan kita betapa kalimat lawas “hamparan sawah sejauh mata memandang” adalah pemandangan mustahil hari ini. Kini tak ada lagi “sejauh mata memandang”, sebab baru saja sependek 20 meter, pandangan langsung terantuk dinding perumahan, atau pagar tinggi villa mewah, atau malah sawahnya sudah masuk dalam properti restoran yang menjual pemandangan sawah.



“Waktu saya kecil diajak kakek berkeliling melihat pemandangan, melihat sawah yang luas. Sekarang, sawah di belakang rumah sudah jadi rumah-rumah. Fenomena ini menjadi paradoks bagi negeri lumbung padi dan tambak garam tapi kekurangan padi dan garam sehingga harus impor,” ujar Srihadi.


Lukisan Papua juga menjadi seri penting dalam pameran ini, yang diwakili karya Papua – The Golden River Belong to Its People (2017) dan Papua – The Energy of Golden River (2017). Dua lukisan itu adalah tangkapan ingatan Srihadi atas Papua tahun 1975. Tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi Papua saat ini, ketika tambang meluas, jalan aspal sambung bersambung, dan luas hutan menyusut.


Bayangkan Papua di tahun 1975 ketika hutan perawan masih mendominasi. Dilihat dari udara, menjelang malam, hanya hitam di bawah sana. Sungai keemasan yang menembus pekatnya hutan Papua. Pemandangan tersebutlah yang dialami Srihadi saat bertugas untuk melukis sumur pengeboran dekat Sorong, Papua, pada 1975.


“Alam Papua bagus sekali dilihat dari atas. Hutan sudah gelap. Yang terlihat hanya sungai mengkilat keemasan terkena sinar matahari sore. Kesan ini yang saya tangkap,” kata Srihadi.



Seri penting lain yang dipamerkan adalah Borobudur di antaranya berjudul  Borobudur – The Energy of Nature (2017), Borobudur – Moment of Contemplation (2017), Borobudur – Moment of Meditation (2017), dan The Mystical Borobudur (2019).


Seri Borobudur menjabarkan perjalanan candi Borobudur di tangan Srihadi dari tahun 1948 hingga kini. Perjalanan yang bukan tentang perubahan fisik atau visualnya, melainkan bagaimana Srihadi menyuguhkan konsep filosofis dan estetis situs suci tersebut. Melalui sketsa Borobudur yang dibuat pada usia 17 tahun menjadi cikal bakal Srihadi dalam membuat lukisan-lukisan pemandangan di kemudian hari.


Secara filosofis, menurut Rikrik Kusmara, Srihadi ingin menekankan aspek manusia, budaya, dan semesta. Tentang bagaimana manusia membuat Borobudur, bagaimana manusia berada di alam, serta eksistensi manusia sebagai bagian dari mikrokosmos dan makrokosmos. “Memang hal yang unik jika menelusuri Borobudur, seperti doa keseharian Srihadi untuk kehidupan ini. Karena itu kehadirannya secara estetis selalu berbeda,” ujar Rikrik Kusmara.


Karya yang terakhir diproduksi di antara karya-karya yang dipamerkan adalah Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir (2020), menyorot bencana banjir besar yang menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya pada 1 Januari 2020.



Air yang menenggelamkan Jakarta divisualkan berwarna merah, bergolak, dan menutup tungkai bawah patung Pembebasan Irian Barat. Latar belakangnya gedung-gedung pencakar langit yang tetap gemerlap oleh lampu, sementara di langit ada gerhana matahari cincin, peristiwa alam yang terjadi sepekan sebelum banjir.


Patung Pembebasan Irian Barat menjadi Patung Pembebasan Banjir bukanlah sekadar plesetan. Ada kekhawatiran besar di sana. Kalau banjir terus bertambah volumenya, merembet terus menaiki kaki patung, bisa-bisa Pulau Jawa sudah tidak kelihatan.


Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengungkapkan, Srihadi melalui karya-karyanya membuktikan bahwa ia adalah sosok seniman yang paripurna. Dengan etika, empati, dan estetika, Srihadi menghidupkan karya-karyanya. “Sebaliknya, karyanya pulalah yang menyemangati hidupnya, hingga ia tetap sehat dan aktif berkarya di usia senja.


Keistimewaan Srihadi ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak generasi,” ujarnya

Pameran tunggal Srihadi Soedarsono tahun ini merupakan hasil kerja sama antara Srihadi Studio dan Sugar Group Companies untuk yang ketiga kalinya selama satu dekade terakhir, yakni Retrospective 80th Anniversary Exhibition tahun 2012, Srihadi Soedarsono – 70 Years Journey of Roso tahun 2016, dan Srihadi Soedarsono— Man x Universe tahun 2020. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 20 April mendatang.