• Vicharius DJ

Membaca Chairil dalam Konteks Zamannya

Anda pasti tidak asing dengan nama tokoh sastrawan legendaris Chairil Anwar. Puisi Chairil Anwar merupakan pencapaian dalam sastra Indonesia yang menginspirasi perpuisian Indonesia modern di generasi selanjutnya. Dalam rangka mengenang 100 tahun Chairil Anwar, komunitas Salihara kini sedang menyelenggarakan pameran arsip Chairil Anwar dengan tajuk “Aku Berkisar Antara Mereka” yang dibuka hingga Desember mendatang.

 

Pembukaan pameran Chairil Anwar ini menghadirkan sambutan dari sejumlah tokoh-tokoh penting. Ada Goenawan Mohamad, sastrawan dan pendiri Komunitas Salihara, dan Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Selain itu juga ada Laksmi Pamuntjak, sebagai perwakilan kurator pameran Chairil Anwar ini.

 

Pameran dengan tajuk “Aku Berkisar Antara Mereka” merupakan sebuah program kerja sama dengan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Pusat Dokumentasi Sasyta H.B. Jassin dikuratori oleh dua perempuan yang aktif di dunia seni dan sastra yaitu Cecil Mariani dan Laksmi Pamuntjak. Dalam tulisan kuratorial yang ditulis oleh keduanya, pameran ini ingin memaknai ulang kontribusi sang penyair dalam dunia sastra Indonesia.

 

Pameran ini juga memberikan dimensi lain selain mitos “binatang jalang” yang melekat pada dirinya. Selain itu kita akan diperlihatkan karya-karya Chairil Anwar yang berkaitan dengan dimensi-dimensi lain dalam kesusastraannya.

 

Namun, ada yang lebih penting tentang Chairil yang kadangkala luput diperhatikan, bahwa sang penyair adalah produk tradisi yang mendahuluinya. Konsekuensi dari pemahaman itu yaitu pentingnya membaca Chairil dalam konteks zamannya, berdasarkan penelusuran teks, bukannya mitos. Bagaimana relasi pemikiran dan artistik Chairil dengan seniman lain, dan bagaimana pula ia berkisar di antara arus zaman itu hingga muncul sebagai pembaharu.

 

Di sinilah perayaan seratus tahun bisa berharga: untuk memaknai ulang kontribusi sang penyair kepada sastra Indonesia, serta mendekonstruksi mitos-mitos seputar karya-karyanya. “Dalam semangat itulah pameran ini hendak mengembalikan sang penyair kepada identitasnya yang hakiki: kata-katanya,” terang kurator

 

Dalam pameran ini Anda juga dapat melihat peran kritikus H.B. Jassin, pengaruh penyair-penyair dunia pada sajak-sajaknya, serta perdebatan sengit seputar mana yang merupakan karya asli, saduran, terjemahan atau jiplakan.

 

Tidak hanya tentang Chairil Anwar, pameran ini juga menyoroti sejumlah tokoh baik dari kalangan pelukis Indonesia hingga penyair luar. Tokoh-tokoh yang ikut dipamerkan sedikit banyak memengaruhi karya dari seorang Chairil Anwar.

 

Para kurator hendak menampilkan hubungan-hubungan yang terjadi sehingga bisa memberikan gambaran sang tokoh terhadap sumber inspirasi. Inspirasi tersebut datang dari pandangan akan seni rupa, agama, dan politik pergerakan.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua