• Vicharius DJ

Mencari Bentuk Ideal Seni Pertunjukan Daring

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, banyak pelaku seni pertunjukan yang memindahkan pentas karyanya ke panggung daring. Sejak Maret kemarin, pertunjukan daring bermunculan dalam beragam bentuk. Lalu pertanyaannya, apakah betul panggung-panggung daring dapat menggantikan pentas luring?

Pada kenyataannya, pertunjukan daring tak hanya berhadapan dengan persoalan teknis, namun juga soal-soal esensial terkait konvensi-konvensi pementasan hingga soal penjarakan sosial. Pada ranah teater dan tari, tak sedikit panggung daring yang senyatanya lebih tepat disebut sebagai pemutaran video rekaman dokumentasi karya.



Di pentas daring semacam itu, seni pertunjukan kehilangan keniscayaan pembedanya dengan film sebagai peristiwa panggung yang tak bisa diulang sama persis tiap presentasinya. Persoalan itu menjadi salah satu perbincangan menarik yang dibicarakan Ria Papermoon, Yola Yulfianti, dan Hilmar Farid dengan moderator Nirwan Dewanto di kanal Youtube Komunitas Salihara.


Ria Papermoon menyebut pertunjukan daring memang tak sama dengan panggung luring. Menurutnya, panggung daring punya potensi untuk menjelajahi beragam kemungkinan saat layar gawai atau komputer menjadi ruang pementasan virtual.“Kita melihat keterbatasan yang kita punya saat ini sebagai potensi. Ada kemungkinan-kemungkinan lain bisa ditangkap mata kamera yang selama ini tidak kita lihat saat berada di atas panggung,” katanya.



Menurut Ria, memang ada persoalan teknis dan perdebatan apakah pentas daring memang benar-benar dapat disebut sebagai sebuah pementasan lazimnya peristiwa panggung di ruang pertunjukan. Ria menyebut Papermoon Puppet Theatre memilih untuk tidak mempertentangkan antara pertunjukan daring dan luring. Menjelajahi kemungkinan karya dapat efektif terhubung dengan publik yang lebih luas melalui daring menjadi pilihannya.


Hal senada disampaikan Yola Yulfianti. Menurutnya, panggung pertunjukan daring tidak bisa lepas dari kolaborasi dengan banyak pihak. Termasuk bersama pelaku seni media baru yang lazim bekerja dengan video dan kamera. “Seni media baru memperkaya seni pertunjukan itu sendiri. Ada interaksi teknologi yang bisa kita olah lagi menjadi seni pertunjukan,” katanya. Menurutnya, hal itu membuka eksplorasi-eksplorasi segar yang bisa menjadi tawaran baru di seni pertunjukan.



Tentang kolaborasi dengan seni selain pertunjukan, Hilmar Farid menyebut saat ini bayak yang mulai melakukannya. “Ada kolaborasi antara seni pertunjukan dengan seni grafis dan lain-lain,” katanya. Menurutnya, banyak pelaku seni pertunjukan yang tampak berusaha mencari bentuk ideal presentasi karya di jalur daring.


Hilmar menambahkan, situasi saat ini justru menjadi semacam kesempatan untuk kembali menajamkan kembali relasi antara seni dan publik. Bagi Hilmar, kini saatnya untuk menjawab apakah betul publik butuh seni atau sebaliknya dan bagaimana relevansinya dengan realitas kehidupan.



Nirwan Dewanto menyebut pertunjukan daring semasa pandemi juga berhadapan dengan persoalan protokol kesehatan seperti penjarakan sosial. Menurutnya, penjarakan sosial mau tak mau mestinya diikuti oleh para pelaku seni yang menyajikan karya melalui jalur daring. ’’Tentu menjadi masalah saat penjarakan sosial justru tidak terlihat dalam pertunjukan daring,’’ katanya. 

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon