top of page
  • Vicharius DJ

Mengubah Marah Jadi Karya yang Manis

Bentara Budaya Jakarta gelar pamerantunggal karya Daniel Kho yang bertajuk OwALAH. OwALAH adalah kata yang umum kita dengar ketika seseorang terkejut. Kata tersebut sudah masuk dalam kamus Bahasa Indonesia, kendati belum menjadi kata baku.Daniel Kho kerap menggunakan kata-kata nyeleneh, dan cenderung meledek. Judul pameran-pamerannya kerap diambil dari kosakata Jawa, seperti mboh, dobos dan oalah.

 

Makna di balik istilah-istilah tersebut menjadi dasar dari sikap berkarya Daniel. Dalam pameran tunggalnya kali ini, Daniel memilih kata OwALAH, sebagai judul pamerannya. Daniel memang sosok yang apa adanya dan cenderung sinis melihat situasi dan perilaku manusia.Bagi Daniel, manusia adalah makhluk yang paradoksal. Manusia adalah makhluk paling berakal, namun karenanya juga paling destruktif di dunia, baik pada sesamanya, makhluk hidup yang lain dan lingkungan.

 

Caranya memandang hidup yang kadang filosofis itu juga dapat dilihat dari deretan bentuk karya-karyanya yang transformatif. Tapi, alih-alih menggunakan figur manusia Daniel lebih banyak menggunakan makhluk mitologi, wayang kulit, hingga sosok alien yang dinamai sebagai makhluk ethno-extraterrestrial-pop

 

“Kenapa saya tidak banyak menggunakan figur manusia karena mereka ini binatang paling bodoh di dunia. Manusia telah merusak habitatnya demi keinginannya sendiri tanpa memikirkan [kehidupan] yang lain,” ujarnya.

 

Namun, sikap kemarahan Daniel terhadap manusia selalu disampaikan dengan cara yang manis dan gembira. Alih-alih menggunakan bentuk kemarahan verbal, dia melah memplesetkannya menjadi karya-karya dengan judul yang lucu untuk mentransfer kebahagiaan pada khalayak.

 

Misalnya, dalam lukisan berjudul Le Pet (50 X 40 cm) yang menggambarkan sosok transformasi seperti alien dengan kepala yang besar. Karya dengan molotow akrilik di atas kanvas ini juga menampilkan figur berbentuk seperti burung, dan deformasi makhluk seperti nyamuk dan octopus.

 

Kemudian ada juga karya bertajuk Konslet, (150 X 130 cm)  yang menampilkan bentuk mahluk mitologi naga dengan tulisan-tulisan seperti Mbelgedesh, Konslet Maning, Pye KBR Mu, hingga Mini Kopet, alias kotoran manusia yang kecil. Ada kemarahan yang manis dan lucu di sana 

 

“Penggunaan kata-kata ndobos, kopet, dan yang lain itu kan bukan pelecehan atau bentuk penipuan aja, karena dengan kata-kata sederhana ini orang bakal terus ingat, dan ini juga mengandung kedalaman tersendiri jika dicermati,” ungkapnya.

 

Menurut kurator Asmudjo Jono Irianto, dalam proses pengkaryaan, Daniel Kho merupakan sosok yang mengalir tanpa meributkan wacana dan konsep. Karena sikap skeptisnya pada manusia, sang seniman pun mencoba mencari jawaban pada genre science fiction, asal-usul penciptaan manusia dengan melibatkan alien,  hingga mahluk-mahluk mitologi.

 

"Karya Mas Daniel itu sebenarnya paradoks, seperti bergembira tapi juga tragis. Tidak menggambarkan manusia, tapi mengambil inspirasi dari persoalan manusia di bumi,” papar Asmudjo.

 

Bagi Daniel berkarya adalah caranya untuk tetap bahagia dan waras dalam dunia manusia yang carut-marut. Berkarya adalah katarsis baginya. Pameran Daniel Who di BBJ ini adalah salah satu chapter dalam perjalanan Daniel “membagi” kebahagiaan pada pemirsa. Namun karya-karya Daniel tidak hanya ingin membagi kebahagiaan, justru pada intinya karya-karya tersebut juga ingin mengajak pemirsa merenung, mengapa sesama manusia tidak ingin saling membahagiakan, saling berbagi kasih, sesuatu yang sesungguhnya mudah dilakukan.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentários


bottom of page