top of page
  • Vicharius DJ

Menjejaki Sikap Kritis Sang Karikaturis

Pada 1988 harian Suara Pembaruan menerbitkan sebuah artikel yang menyentil buruknya kondisi udara kota Jakarta. Artikel itu jadi popular bukan hanya gaya tulisan dan idenya yang menarik namun karena tambahan karikatur buatan Thomas Lionar. Sang karikaturis menggunakan gambar Monumen Nasional (Monas) memakai sebuah masker dan tabung oksigen.


Thomas, begitu panggilannya, terlihat mengkritisi jumlah kendaraan sebagai penyebab polusi udara di Jakarta. Rasanya, karya itu masih relevan di era sekarang. Ia tampak masih begitu segar dari ide dan gagasan meskipun usianya sudah lebih dari 30 tahun. Thomas Lionar bekerja untuk Suara Pembaruan pada 1986-1988.  

Ketika karikatur itu muncul, Thomas memberikan pesan bahwa jumlah kendaraan baik mobil maupun motor yang ada di Jakarta pada saat itu membuat banyak orang kekurangan oksigen. Latar yang gelap dalam karyanya kemungkinan sang seniman ingin menyampaikan pesan bahwa itu adalah hasil polusi.


Karya itu merupakan satu dari sekian banyak karya yang lahir dari tangan Thomas. Di Balai Budaya Jakarta, karikatur Thomas dipamerkan dalam tajuk Clap Kilasan Meteor Thomas Lionar. Sang seniman terlihat kerap menyampaikan pesan-pesan yang mengkritik seperti pegawai negeri yang bisa membeli rumah secara tunai.


Kemudian, sistem pendidikan yang masih semerawut, seseorang dengan bergelimang harta yang menyuguhkan anak-anak kurang mampu dengan retorika, hak rakyat yang diambil untuk kepentingan pribadi, dan sebagainya. Dari karya-karya dalam pameran tersebut, terlihat bagaimana sikap kritis sang seniman terhadap kondisi sosial, politik, kesenian, dan sebagainya di dalam negeri.

Sementara dari sisi visual, Thomas mampu menciptakan karikatur yang begitu hidup sehingga gambar-gambarnya begitu “menggelitik” bagi siapa saja yang melihatnya. Dia mampu menyajikan visual yang begitu satir dengan apik. Tarikan garis dalam karyanya juga begitu halus dan tepat dalam menggambarkan objek yang ingin diciptakannya, menciptakan ekspresi yang membuat siapa saja dapat memahami pesan yang hendak disampaikan.


Chryshnanda Dwilaksana yang menginisiasi pameran ini mengatakan bahwa dalam karya Thomas terdapat harmoni dari segi teknis, pendekatan kritikal karikatur, dan model pengemasannya. Sang seniman sudah tidak ada sejak tiga dasawarsa silam. Namun, karyanya menunjukkan keabadian.


Thomas piawai memelototkan wajah objek yang dilukisnya, dari seniman, tokoh politik, sampai dunia. Tidak hanya itu, sang Seniman juga menggunakan banyak simbol politik, seni, sosial kemanusiaan, dan sebagainya.

Dia begitu jeli menangkap isu yang dikritik. Namun, tetap menampilkan karakter tokohnya. Dalam berkarya, Thomas memiliki karakter khas dalam tarikan garis yang lembut, tetapi mampu menampilkan karakter yang kuat sehingga banyak orang mudah mengenalinya karyanya. Sang seniman juga tidak hanya kritis dalam berkarya. Akan tetapi, kerap melucu dalam satirnya dan memiliki pesan. Dia juga memiliki gaya kartun tanpa kata yang jenaka.


Kejenakaan dalam karya karikaturnya itu menunjukkan kecerdasannya mengingat membuat karya yang lucu memerlukan imajinasi yang tinggi dalam menjungkirbalikkan logika atau sesuatu yang sakral dan dituangkan ke dalam gambar.


Karya sang seniman memang berbeda dengan gaya karya maestro kartunis Indonesia.  Karya Thomas khas seolah bukan karya orang Indonesia lantaran dapat disandingkan karya kartunis dunia.  Sementara itu, Darminto M. Sudarmo, dalam catatan pameran, menuliskan bahwa Thomas Lionar berada di urutan sepuluh dalam daftar 25 kartunis ternama dunia berdasarkan survei yang dilakukan oleh WittyWorld. Penentuan peringkat dengan melihat kepada artistik, ide, dan pengakuan sesama kartunis dalam skala nasional dan internasional. 

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page