• Vicharius DJ

Menjelajahi Dua Pameran Seni di Jalur Virtual

Jika Anda merupakan salah satu warga yang masih terdampak pandemi Covid-19 dan terpaksa diam di rumah, tak perlu khawatir. Cobalah sesekali mengunjungi pameran virtual yang diselenggarakan Gudskul dan Serrum. Mulailah Anda mengakses laman https://gallery.gudskul.art/ untuk memulai penjelajahan secara Daring.

Pameran ini menggunakan tajuk cukup menarik. Di Rumah Tak Berarti Melemah. Grafis Huru Hara sebagai kurator menyeleksi 30 karya dari 50 karya seni yang masuk untuk dikurasi. Eksplorasi pameran dalam bentuk 3D, Anda hanya perlu meng-klik poster di bagian depan lalu menuju ruang pamer. Ada karya poster grafis yang dipajang.



Salah satunya karya The Popo yang berjudul Bahagia. Di sampingnya ada Arief Rahman yang menghadirkan kreasi bertuliskan new normal for new hope hingga poster Alienpang x Bronzelani yang menghadirkan $zeHATI $zeLALU.


Selain itu, masih ada puluhan poster lainnya yang dipajang. Dilihat dari katalog pameran seni Di Rumah Tak Berarti Melemah, Grafis Huru Hara menuliskan jaga jarak dan bekerja dari rumah tak membuat seniman melemah.


"Melalui poster, Grafis Huru Hara ingin kampanye dalam bentuk visual dengan menyebarkan pesan-pesan positif, misalnya menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, tetap waras, saling menjaga keluarga, berolahraga, bercocok tanam secara mandiri, dan pesan kebaikan lainnya lewat karya-karya yang dipamerkan," tulis Grafis Huru Hara.


Pameran kedua yang digelar secara Daring adalah Meretas Batas. Pameran instalasi busana secara virtual masih bisa disaksikan hingga 25 Juli mendatang melalui kanal Youtube Gudskul. Meretas Batas tidak disajikan dalam bentuk penayangan katalog digital seperti kebanyakan pameran Daring belakangan ini.


Bentuk penyajian Meretas Batas memberi pengalaman penontonnya melihat presentasi karya di ruang ekshibisi yang dilengkapi penjelasan detil pada tiap karya. Dalam pameran tersebut ada enam orang peserta yang terlibat. Mereka adalah Monica Hapsari, Ayu Dila, MG Pringgotono, Bethany Burton, Monika Fransiska, dan Ruth Priscilla.


Dua dari mereka menjadi kurator dari pameran ini. Mereka adalah Monica Hapsari dan Ayu Dila. Pameran ini bertolak dari lokakarya singkat yang dijalani para peserta. Pada proses itu Monica dan Ayu berbagi tugas. Ayu terlibat dalam pendampingan teknis, sedangkan Monica banyak memantik rangsang untuk menguatkan karakter di balik masing-masing karya.



’’Kita satu tim tapi punya dua aspek berbeda, fashion branding and identity,” kata Monica. Menurutnya, karya dalam pameran ini lahir dari proses yang berorientasi pada manfaat bagi sekitar.


Bukan cuma berpikir untung ataupun sekadar ada. Dari proses semacam itu diharapkan muncul karya dengan nama dan identitas yang kuat sekaligus bermanfaat. Monica menyebut tidak semua peserta memiliki latar belakang seni busana. Mereka juga memiliki ide beragam.


Pengunjung pameran virtual ini selain masih bisa menyaksikan pidato pembukaan dan pengantar kuratorial juga dapat mengintip seperti apa presentasi karya yang ada. Monica dan Ayu menjadi pemandu dari satu karya ke yang lain. Mereka memberi penjelasan detil masing-masing karya layaknya tur kurator dalam pameran luring. Tidak terlalu serius, tapi jelas dan tak membosankan. Bagian ini membantu pengunjung Daring bisa tahu lebih banyak tentang karya. Di saat sama, pengunjung juga dapat melihat rupa presentasi karya dalam tiap ruang pameran di Gudskul Ekosistem itu.



Meretas Batas menyajikan karya-karya yang unik. Ada yang bertolak dari pemanfaatan limbah kulit sayur dan buah di sekitar untuk pewarnaan kain seperti yang ditampilkan Monika Fransiska, ada pula terusan baju unik dengan bunga Matahari di bagian dada karya Ruth Priscilla.


Tidak semuanya adalah karya yang paripurna. Misalnya The Mamo dari Bethany Burton yang bertolak dari ide apakah benar tatanan hari ini masih berlaku di masa setelah apokaliptik kelak. Bethany menyajikan busana dari bahan bekas yang diniatkan untuk tidak ditransaksikan dengan uang melainkan barter.

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon