• Vicharius DJ

Menyoal Persepsi dalam Karya Seni Kontemporer

Karya seni rupa kontemporer yang tersaji di Museum MACAN, Jakarta bagaikan sajian untuk mengarungi semesta pikiran. Seperti yang bisa dilihat pada karya perupa kontemporer asal Denmark, Olafur Eliasson berjudul, Multiverse and Futures. Dibuat dari bahan baja nirkarat, karya milik Eliasson seperti sebuah teropong.

Ada yang berbentuk Kaleidoskop Persegi, dengan penampang depan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 186 sentimeter X 82 sentimeter X 150 sentimeter. Ada pula Kaleidoskop Belah Ketupat, Kaleidoskop Segitiga, dan Kaleidoskop Heksagonal yang memiliki ukuran hampir sama dengan Kaleidoskop Persegi.



Keempat kaleidoskop karya Eliasson ditempatkan di bagian awal ruang pamer Museum MACAN. Karyanya merefleksikan keseluruhan tema pameran. Di era banjir informasi seperti sekarang, suatu fakta yang dikemas menjadi sebuah informasi bisa menimbulkan beragam persepsi.


Tidak ubahnya teropong, kaleidoskop karya Eliasson juga digunakan untuk meneropong objek di depannya. Bedanya, kaleidoskop itu tanpa lensa. Citra yang ditangkap akan dipantulkan dinding-dinding kaleidoskop yang terbuat dari stainless steel dan bisa memantulkan objek layaknya seperti cermin.



Kaleidoskop Persegi memiliki bentuk penampang empat persegi panjang. Begitu pula, untuk penampang kaleidoskop lainnya berbentuk belah ketupat, segitiga, dan heksagonal atau segi enam. Ketika meneropong, tercipta pantulan objek dari dinding-dinding kaleidoskop yang seperti cermin. Ada efek pantulan cermin turut menghasilkan citra yang berbeda-beda dari setiap kaleidoskop.


Seperti itulah persepsi. Persepsi dari sebuah fakta yang sama akan menjadi berbeda-beda, ketika alat atau cara pandang yang digunakan berbeda. Kaleidoskop ibarat alat atau cara pandang. Setiap kali menggunakan kaleidoskop yang berbeda, tentu menghasilkan hasil pandang yang berbeda-beda.



Persepsi pada akhirnya melatari sebuah tindakan. Jika yang terbentuk adalah persepsi negatif, dikhawatirkan menghasilkan tindakan-tindakan yang negatif pula.


Tak hanya Eliasson, seniman Tanah Air, Bandu Darmawan menampilkan persoalan persepsi di dalam karya berjudul Jalan Raya Foton (2017). Ia menghadirkan proyeksi video yang menampilkan bayangan hitam seorang laki-laki. Di dekat layar, Bandu menempatkan dua kursi yang saling berhadapan.



Kedua kursi itu diperuntukkan bagi dua pengunjung. Dari sinar proyeksi video, kedua pengunjung tadi juga membentuk bayangan hitam di layar. Layar yang semula menampilkan video bayangan satu orang, pada akhirnya menampilkan bayangan tiga orang. Ketiganya duduk dan seperti dalam posisi sedang bercakap-cakap.


Di layar itu Bandu membangkitkan persepsi dari hasil rekaman video bayangan satu orang di masa lampau, bertemu dengan bayangan dua orang di waktu seketika (real time). Citra layar menampilkan seolah-olah ada tiga orang dalam waktu yang bersamaan. Bandu mengisyaratkan, persepsi menjadi hal yang bisa begitu mudah untuk dipermainkan, ketika tampilan fakta atau kenyataan bisa dimanipulasi. Jika tertarik melihatnya langsung, dua karya kontemporer ini masih bisa dinikmati secara Luring di Museum MACAN, Jakarta.




0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua