top of page
  • Vicharius DJ

Merawat Ingatan Karya Kartono Yudhokusumo

Galeri Salihara menampilkan ratusan karya lukis buah karya Kartono Yudhokusumo, seorang perupa yang gagasan artistiknya turut memengaruhi seni rupa kini. Meski tidak sepopuler S.Sudjojono, Affandi, atau Basoeki Abdullah, ia dikenal sebagai Bapak seni Lukis Dekoratif Modern Indonesia.


Karya-karyanya kini terpajang agar bisa dinikmati publik dalam sebuah pameran bertajuk, Kartono Yudhokusumo: Karya dan Arsip. Hal itu terejawantah dalam bentuk drawing hingga lukisan yang berjumlah kurang lebih 109 karya, milik kolektor hingga museum.


Ibarat memasuki linimasa waktu, siapapun yang ke sana akan diajak memasuki kelindan gagasan sekaligus daya artistik dari sang seniman. Gagasan itu merentang dalam rekam jejak pengkaryaan dokumentasi baik berupa gambar, lukisan, artefak, catatan, dan berita tentang dirinya yang dimuat di media massa. 


Asikin Hasan, Kurator Galeri Salihara  mengatakan Kartono merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Bahkan, dia juga berhasil mengembangkan gaya seni lukis dekoratif yang khas. “Sebenarnya beliau juga punya macam-macam kecenderungan, salah satunya ekspresif, meski tidak banyak lukisannya yang diketahui publik,” terang Asikin.


Salah satu karya misalnya yang berjudul Melukis di Taman, yang menjadi koleksi Museum Galeri Nasional Indonesia. Karya menggunakan media oil paint on canvas 65 x 90 cm, itu terpacak di sisi kakan dinding, tidak jauh dari pintu masuk galeri. Sesuai judulnya, karya yang dibuat pada 1952 itu melukiskan keindahan alam dengan sentuhan detail palet di dalamnya. Sementara itu, seorang perempuan dengan atasan kebaya berwarna-warni berdiri di dekat kanvas, sedemikian rupa, sehingga seolah-olah sedang dilukis.


Lukisan ini pernah diikutsertakan dalam pameran seni rupa Konferensi Asia-Afrika, di Bandung Jawa Barat, pada 1955. Melukis di taman juga dijadikan sampul Majalah Budaya yang digunakan Kementrian Budaya, sebagai laporan publik mengenai keikutsertaan Indonesia dalam pameran Sao Paulo Biennale kedua pada 1953.


Gaya dekoratif Kartono juga bisa disimak lewat karya berjudul Anggrek, oil paint on canvas, 72 x 91 cm. Sesuai judulnya, lukisan tahun 1956 itu secara detail menggambarkan Orchidaceae dengan segala keindahannya yang mengagumkan, lewat aksen dekoratif sekaligus bernuansa liris.


Saat diperhatikan dengan saksama, sang pelukis menorehkan palet-palet warna yang didominasi merah kehijauan. Tak hanya itu, lewat sapuan kuasnya, kita dapat melihat bentuk-bentuk gradasi dari latar pegunungan dalam bentuk visual yang estetik laiknya memasuki taman bunga.


Karya dengan tema serupa juga terepresentasi dalam lukisan bertajuk Plants, Sanggar Seniman, Pemandangan, dan Landscape. Hampir secara keseluruhan lewat deretan karya-karya tersebut, sang seniman mengeksplorasi keindahan botanical dengan corak yang khas, termasuk penempatan objek yang memenuhi bidang kanvas.

Sementara itu, kurator tamu sekaligus kolektor Amir Sidharta, mengatakan, karya-karya yang dipacak dalam pameran ini sebagian besar menggambarkan daya artistik dari sang seniman. Terutama saat Kartono belajar melukis dari Chiyoji Yazaki, dan Soedjojono, dan  B.J.A Rutgers.


Menurut Amir, dari hasil studi tersebut mayoritas karya Kartono juga menggambarkan suasana Revolusi Fisik di Tanah Air. Hal itu misalnya, mewujud dalam karya berjudul Stelengkoe di Poetra, Pencil on Paper 24,8 x32,5 cm yang dibuat sebagai terapan pelajaran perspektif yang diterimanya dari B.J.A Rutgers.


“Kartono ini termasuk salah satu pelukis besar di Indonesia, tapi namanya kurang begitu populer. Karyanya juga tidak banyak, sepengetahuan saya mungkin kurang dari 20 lukisan,” terang Amir.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page