top of page
  • Vicharius DJ

Merayakan Kritik dalam Parodi Kartun Strip Timun

Tergambar tiga orang berbaring di atas tempat tidur berjejer. Satu pakai penutup kepala warna hitam dengan dua kuping tegak. “Saya Batman”, katanya. Di sampingnya, tergolek seorang dengan rambut ikal sedikit terurai di dahi dan bilang, “Saya, Superman”. Tak kalah, satu orang lagi, kepala botak dan bermasker menukas, “Kami semua isoman.”

 

Ilustrasi jenaka itu dibuat oleh Rahmat Riyadi di salah satu terbitan harian Kompas. Publik yang sering membaca Kompas edisi Minggu pasti tak asing dengan humor a la kartun Timun.   Rahmat rupanya menangkap suasana psikologis itu yang kemudian dituangkan dalam kartun strip Timun. Siapapun yang melihat karya itu tersenyum getir. Kalau kebetulan saat itu sedang menjalani isoman, daya ledakan humornya bisa lebih

 

Ada banyak kartun Timun di harian Kompas yang merespons berbagai kenyataan yang sakit, pahit, atau menggemaskan di Indonesia. Kenyataan itu bisa terkait masalah sosial, politik, ekonomi, atau budaya. Atas semua itu, kartun Timun mengomentari, mengejek, atau membuat tiruan (imitasi) atas kenyataan yang disimpangkan sehingga menjadi semacam plesetan, olokan, lelucon, atau humor. Semua itu dapat disebut sebagai parodi.

 

Tanpa terasa kartun Timun sudah memasuki usia 38 tahun sejak pertama kali hadir pada 27 Januari 1985. Untuk merayakannya dibuatlah pameran komik tunggal Rahmat Riyadi di Bentara Budaya Jakarta dengan tajuk, “Parodi Negeri Kami: 38 Tahun Kartun Strip Timun” yang terselenggara hingga 23 Februari.

 

Meski bernuansa menggelitik, kartun karya Rahmat Riyadi itu sarat dengan kritik. Timun menjadi parodi kelucuan di Indonesia, sekaligus mengingatkan kita untuk setia menjadi diri sendiri. Lewat kartun, Rahmat merespons berbagai persoalan di negeri ini, di antaranya korupsi, bencana, kriminalitas, problematika pendidikan, kemiskinan, kemacetan, dan pandemi Covid-19.

 

Rahmat hanya ingin menyampaikan keinginan dirinya untuk menjadi diri sendiri. “Kritik itu minimal bisa membuat orang tersenyum saat melihat kartunnya,” katanya. Ia tidak mau mengenakan topeng. Ia tidak mau berpura-pura dalam menjalani hidup dan pekerjaannya. Ia lalu memilih isu yang paling mencuri perhatian dan banyak dibahas.

 

Selain menampilkan ratusan dokumen kartun strip, pameran ini juga menghadirkan puluhan lukisan yang dibuat Rahmat sejak 2020. Dia melukis untuk mengisi kesendirian setelah istrinya, Darmuji Ningsih meninggal dunia. Kepergian istrinya mengingatkan masa-masa kecil Rahmat di Pekalongan, Jawa Tengah. Rahmat lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 20 Oktober 1947, sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Ia adalah adik Kartono Riyadi, fotografer ternama di harian Kompas.

 

Selain menciptakan karakter Timun, Rahmat juga menghadirkan Delima sebagai istri Timun. Kemudian karakter Terong sebagai anak laki-laki dari pasangan Timun dan Delima. Menurut mantan editor Kompas Minggu, Ninuk Mardiana Pambudy, yang pernah menangani kartun strip Timun, Rahmat kadang menyertakan sosok lain terutama laki-laki. Jarang ada sosok perempuan selain Delima.

 

Salah satu contoh ada di kartun strip yang terbit pada 26 Januari 2003, yang terdiri atas empat panel. Pada panel pertama hingga ketiga, Timun dan Terong mengkritik masakan lodeh dan ayam goreng yang dibuat Delima. Pada penel terakhir, Delima menyahut, ”Ingat!! Jangan samakan istrimu, ibumu, dengan wanita lain! Setuju???” Delima menyatakan sikap: tidak mau dibanding-bandingkan.

 

Tema dominan kartun Timun, menurut penulis Seno Gumira Ajidarma, adalah korupsi. Rahmat tidak menyorot sistematika, tetapi mentalitas para koruptor dan di sanalah humornya. ”Koruptor tidak seperti jahat, tetapi lucu dan mampu mengejek diri serta mampu memperhitungkan risiko jika tertangkap, masih untung atau tidak,” ujar Seno.

 

Selain koruptor, politikus juga menjadi bulan-bulanan.Terutama politikus yang menimbulkan kemarahan publik sehingga komik Timun bisa berfungsi sebagai katarsis.”Kemarahan tersalur dan memang dengan cara itulah kartun bekerja,” kata Seno.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentarios


bottom of page