• Vicharius DJ

Mimic Theater Sajikan Drama Musikal dengan Cerita Rakyat

Srini terjebak dalam situasi yang mungkin tidak akan bisa dibayangkan orang-orang di sekitarnya. Setelah ditinggal suaminya, Srini akrab dengan kemiskinan dan kesendirian. Nasib merana itu tak lantas membuat orang-orang di sekitar mengasihinya. Mereka justru seringkali mempergunjingkan status jandanya.

Nasib gelap tak berhenti di situ. Srini sangat menginginkan kehadiran seorang anak karena ia begitu tersiksa dengan kesendiriannya. Sampai suatu ketika Srini bertemu dengan Buto Ijo. Raksasa itu menjanjikan akan kehadiran seorang anak asalkan Srini mau mematuhi persyaratannya.



Ia diberikan bijih timun yang harus ditanamnya. Kelak dari timun itu akan hadir seorang anak perempuan. Namun ketika si anak dewasa, Srini harus menyerahkannya pada Buto Ijo sebagai persembahannya. Srini setuju dengan perjanjian itu. Ia lalu melakukan apa yang diminta oleh raksasa. Untuk sementara waktu, Srini berhasil mengusir kesepiannya.


Ketika dewasa raksasa itu menagih janji pada Srini. Timun Mas yang sudah tahu kenyataannya begitu sedih. Namun ia tak mau menyerah pada keadaan dan berusaha melawan keangkuhan raksasa Buto Ijo yang menganggap dirinyalah penguasa dan pemilik kekuatan. Pada sebuah pertarungan, sang raksasa itu akhirnya kalah. Timun Mas berhasil mengalahkan keangkuhan demi keyakinan dan cintanya pada sang bunda.


Dongeng lawas ini begitu apik dimainkan oleh kelompok Mimic Theater saat pementasan daring tadi malam. Kelompok teater ini menggunakan pendekatan musikal yang membuat cerita rakyat ini bisa dinikmati. Meski begitu, pendiri Mimic Theater sekaligus sutradara dan penulis Timun Mas The Musical, Sari Setyorini, merasakan ada tantangan besar berkaitan dengan penyelenggaraan secara daring.


“Tantangan terbesarnya pementasan daring itu sebenarnya adalah mengajak orang-orang untuk menonton secara daring, itu sih sebenarnya,” ucap Sari.



Pertunjukan Timun Mas The Musical memang bukan pertunjukan teater pertama yang digelar secara daring sejak pandemi melanda. Sebelumnya, beberapa kelompok teater bahkan sudah memulainya lebih dulu. Ada yang berani berpentas secara live streaming (langsung) namun banyak juga yang memilih cara tapping (rekaman) lalu menyiarkannya secara langsung atau live streaming.


Cara kedua itulah yang dilakukan Mimic Theater. Sari telah melakukan penelitian terlebih dahulu untuk melihat cara teater atau drama musikal diproduksi secara online. Setelah berdiskusi bersama tim produksi teater yang lainnya, Sari memutuskan untuk menggelar drama musikal secara daring. “Kami ngobrol masalah teknis segala macam yang mudah-mudahan ini bisa ditonton dan dirasakan langsung seperti nonton di panggung,” ungkapnya.


Latar panggung yang digunakan hanya satu dengan varian warna lampu yang dibuat berbeda di setiap babak adegan. Musik pengiring sepertinya dimainkan dengan pemutar musik namun dialog dan lagu yang dinyanyikan para aktor dilakukan secara langsung. Beberapa karakter di dalamnya juga melakukan variasi dengan membuat tarian sembari menyanyikan lagu. Seandainya, latar panggung dibuat lebih dari satu, gelaran Timun Mas The Musical ini mungkin akan terasa lebih nyata. Terlebih mereka sudah didukung penggunaan tiga kamera yang masing-masing mewakili sudut pandang penonton.



Mimic Theater menggaet masyarakat untuk menonton drama musikal ini melalui media sosial. Sari menuturkan, penonton bukan hanya diajak untuk menikmati pertunjukan drama musikal garapannya, mereka sekaligus ikut berdonasi untuk anak-anak di panti asuhan Tebet. Sari mengusung konsep tersebut untuk mengangget masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak begitu tertarik menonton drama musikal berbayar.


“Kalau nonton free kan biasanya mau, kalau berdonasi kan kita bayar, kalau orang yang nggak sering nonton theater mungkin sedikit ragu,” ucapnya.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua