• Vicharius DJ

Mosaik Kanvas dan Pesan Cinta Antonius Kho

Antonius Kho, perupa kelahiran Klaten berdarah Indonesia-Cina hadir dalam pameran tunggalnya bertajuk, Spreading Love secara virtual dan dirancang oleh Art:1 New Museum. Ketika berkunjung secara Daring ke pamerannya, kita akan dipertemukan dengan beragam lukisan dengan judul yang belakangan sangat akrab di telinga.


Misalnya Physical Distancing. Lukisan itu berwujud satu kanvas yang dibelah dua oleh garis vertikal panjang. Setiap sisinya menampilkan sejumlah wajah manusia yang terbentuk dari mosaik warna dan mata, menimbulkan kesan seolah-olah wajah-wajah itu adalah topeng. Atau karya lainnya, Social Distancing 1.



Kho, sapaannya membuat wujud lebih abstrak meski samar-samar kita masih dapat menangkap bentuk wajah yang kabur batas-batasnya. Berbeda lagi dengan lukisan berjudul Social Distancing 3 yang tak menampilkan wajah, melainkan lekuk-lekuk garis yang dapat dibayangkan membentuk sebuah tubuh.


Terdapat 20 lukisan Kho yang ia buat selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. Ia mengaku lebih bisa produktif ketika pergerakan masyarakat dibatasi aturan PSBB atau karantina wilayah. Kendati terpengaruh oleh situasi pandemi, Kho juga mencoba menghadirkan lukisan yang bernada semangat, seperti dalam seri Spreading Love.

Lukisan-lukisan yang dijuduli Spreading Love sebagian besar menghadirkan satu sosok utama di tengah kanvas dengan rambut berkibar, di sekitarnya kepingan beragam warna tersebar dan terkadang membentuk wajah lain yang lebih mungil dan tampak ceria. Tema cinta ini memiliki pesan khusus bagi Kho.



Ia tak ingin turut tenggelam dalam kemuraman dan hendak mengingatkan akan hal-hal baik di dunia. Karena itulah topik menyebarkan cinta dia pilih. “Cinta adalah obat yang paling penting untuk menghilangkan rasa takut dan panik,” katanya.


Ingatan akan cinta sebagai penyembuh muncul dalam karya Kho lewat metafora rambut-rambut hitam yang merentang seperti kaki-kaki gurita. Beberapa sosok dalam lukisan bisa mengingatkan kita pada bintang reggae Bob Marley karena aksen rambut berkibar itu.  Rambut menjadi kebaruan bentuk dalam lukisan Kho.


Adanya garis-garis hitam pekat berkelok itu makin menonjolkan komposisi abstrak warna dan bentuk geometri di atas kanvas. “Rambut adalah mahkota yang sensitif, saya gunakan untuk ekspresi menebarkan cinta,” tutur Kho.



Pengamat seni Jean Couteau tentang Kho dalam sebuah pengantar karya mengatakan kegemaran Kho menggambar sosok-sosok yang seperti mengenakan topeng menggambarkan hidupnya yang terbentuk dari banyak faset dan lapisan identitas. “Lukisan Kho adalah bentuk figuratif, tapi juga memiliki kualitas formal sebuah karya abstrak. Interpretasi dapat dilakukan pada kedua level ini,” ujar Couteau.


Adapun teknik mosaik yang dipilih Kho sangat dipengaruhi latar belakang pendidikannya. Kho menamatkan pendidikan seni di Institut Teknologi Bandung. Dia sempat belajar kepada pelukis Barli di Studio Rangga Gempol, Bandung. Kemudian Kho mengambil program master jurusan glass painting and textile art di Cologne, Jerman, pada 1984-1992.


Kho menguasai teknik pewarnaan kaca patri, tapi tak bisa leluasa menerapkannya saat kembali ke Indonesia karena material yang terbatas. Dia lantas meminjam prinsip-prinsip glass painting yang jamak digunakan sebagai dekorasi gereja di Eropa untuk diadaptasi ke atas kanvas. Pameran tunggal yang berlangsung secara virtual ini masih bisa Anda kunjungi hingga 25 Oktobermendatang. 

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon